Minggu, 25 September 2016

Senyuman Yang Menangis

  Gadis itu terus saja termenung di salah satu bangku panjang yang ada di taman kota. Angin begitu sejuk hingga menerpa helaian rambutnya, membuatnya semakin indah sebagai ciptaan tuhan.
Pandangannya terus menatap lurus dengan pandangan kosong, yang ada di hadapannya kini terlihat jelas banyak insan yang sedang bersenang-senang ria dengan orang yang mereka sayangi.

“Kamu lagi apa sih sayang?” Gadis itu menoleh ke sampingnya. Ia tersenyum lalu mendekap pria itu dengan erat.
“Kamu kenapa Dir?” Tanyanya lagi
“Aku kangen sama kamu, kamu nggak boleh tinggalin aku” ucap Nadira sambil mengeratkan pelukannya, seolah ia tak ingin apa yang sudah ia miliki hilang kembali.

Pria itu tersenyum lalu melonggarkan pelukannya, ditatapnya mata hazel milik Nadira.

“Sayang hei dengerin aku ya, sampai kapanpun aku nggak akan pernah ninggalin kamu, aku akan selalu ada di samping kamu, jadi kamu nggak usah berpikir bahwa aku bakal ninggalin kamu, ya?”
“Janji?” Dion hanya terkekeh sendiri melihat tingkah kekanak-kanakan dari Nadira, lalu tangannya menarik Nadira ke dalam pelukannya, menenangkannya agar ia tahu, bahwa dirinya tak akan pernah meninggalkan gadis yang sangat ia cintai.
“Aku janji sayang”

Nadira menenggelamkan kepalanya ke dalam dada bidang Dion, dihirupnya aroma mint yang melekat di tubuh kekar Dion, seolah menjadi candu untuknya serta membuatnya semakin tenang dalam keresahan.

“Jangan sedih gitu, kamu itu cantik kalau lagi senyum”
“Ish, Gombal”
“Nggak kok, kan emang fakta”
“Tetep aja Gombal, Dion sekarang jadi tukang gombal” Dion terkekeh geli melihatnya, melihat Nadira tersenyum bahagia bukan lagi kebahagiaan bagi Dion, tapi sudah seperti pelengkap hidupnya.

Nadira kembali mendekap dan melingkarkan tangannya ke perut Dion, memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir rasa nyaman yang sudah ia dapatkan selama tiga tahun ini dari kekasih yang sangat ia cinta, Diony Fahran Assegaf.

“Sayang” sahut Dion dengan suara yang lirih, Nadira mendongkakkan kepalanya menatap mata Dion yang sendu dan menyejukan bagaikan embun.
“Iya?”
“Kamu mau kan hidup bareng aku?” Pertanyaan itu berhasil membuat Nadira melepaskan dekapannya dan menatap Dion dengan tatapan tajam.
“Maksud kamu apa?” Tanya Nadira yang masih tak mengerti dengan alur dialog yang masih terasa ambigu.

Dion menggenggam erat kedua tangan Nadira lalu ditatapnya mata hazel itu dengan berbagai macam arti.

“Tiga tahun aku dan kamu terikat sama hubungan ini, tiga tahun pula kita bersama dan menjalani hidup bersama setiap hari. Aku sudah banyak tahu tentang kamu, semua tentang kehidupan kamu, dan pastinya kamu juga sudah banyak tahu tentang kehidupanku, Nadira.” Nadira menyerjitkan dahinya masih bingung dengan penjelasan dari Dion, tapi ia sama sekali tak berniat untuk memotong pembicaraan Dion yang sepertinya akan serius.
“Aku mau kamu ada di hidup aku seutuhnya, menerima semua kekuranganku, dan melengkapi segala kelebihanku. Aku mau kamu Nadira, kamu ada di setiap waktu untuk menemaniku di sepanjang waktu dan aku mau kamu yang kelak menjadi jodohku. Nadira, apa kamu mau menjadi seseorang yang akan menemani sisa hidupku, menjadi calon bidadari surga serta menjadi ibu untuk anak-anakku kelak?” Penjelasan itu membuat Nadira menutup mulutnya tak percaya, ia tak percaya, padahal dulu ia selalu berusaha agar Dion peka pada hubungannya yang tak bisa dimain-mainkan, mengingat usianya yang sudah menginjak 25 tahun.

Air mata Nadira meluncur seketika, ia langsung menghamburkan tubunya ke tubuh Dion dan ia terisak disana, Dion yang melihat masih bingung pun hanya mengusap halus punggung Dira.

“Aku mau Dion, aku bersedia menjadi seseoang yang bisa menjaga dan menemani dikala senang maupun duka dihidup kamu. Aku mau menjadi masa depan kamu, aku mau menjadi ibu dari anak-anak kita nanti, Aku bersedia, Dion”
“Benarkah, Dir?” Tanya Dion tak percaya saat Nadira melepaskan pelukannya.
“Lihat mataku Dion, sejak dulu aku menginginkan kamu yang berhak menatap mataku ini selamanya, aku benar ingin menjadi orang yang bisa melengkapi segala kekurangan dan kelebihanmu”
“Terimakasih, Dir. Aku mencintaimu”
“Aku mencintaimu lebih, Dion”

Dion menghapus air matanya lalu ia menghapus sisa air mata Nadira, perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya hingga Nadira memejamkan matanya sejenak.

Diciumnya kening Nadira, lalu beralih mengecup kedua kelopak mata Nadira, hidung, dan kemudian beralih pada bibir merah ranum Nadira yang selama ini belum sekalipun tersentuh. Nadira tersenyum lalu mengangguk, Dion tersenyum lalu mengecup bibir Nadira dengan lembut, menyalurkan rasa cinta yang paling dalamnya untuk gadis manis tersebut.

“Mau ice cream?” Tanya Dion membuat mata Nadira terbuka lebar, lalu ia tersenyum
“Mauuu” pekik Nadira, namun hal itu membuat Dion terkekeh geli melihat sikap menja yang selalu melekat pada Nadira.
“Ya udah kita ke kadai ice cream, ya. Udah itu kita ke rumah kamu, aku mau langsung bicarain tentang pernikahan kita sama keluarga kamu, sekalian aku mau ketemu Bunda, udah lama nggak ketemu”
“Iya, bunda bilang dia kangen sama kamu”
“Berarti aku punya signal kuat dong”
“Apa?”
“Belum apa-apa udah direstuin sama calon mertua”
“Isshh Dion nyebelin, ayo”

Dion tertawa lalu mengajak Nadira ke kedai ice cream yang berada di dekat Taman. Wajah Nadira sangat cerah, secerah cuaca yang sedang terpatri di langit luas.

Tak butuh beberapa lama, Mereka akhirnya duduk dan memesan Ice cake.

Dion memperhatikan Nadira yang sedang asyik melahap ice cup miliknya, sangat menggemaskan. Ini yang membuatnya semakin cinta pada sosok Nadira yang sangat periang, tak ada alasan untuknya mengapa ia begitu mencintai gadis itu, karena apa yang ada di hatinya, ia sudah tahu bahwa dialah takdirnya.

“Kamu kok liatin aku terus?” Tanya Nadira saat melihat Dion sedang memandangnya sejak tadi. Dion tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap sesuatu yang berada di sudut bibir Nadira, hal itu membuat Nadira tersentak kaget.
“Makanya kalau makan ice cream jangan kaya orang yang lapar dong”
“Ih, aku kan nggak tahu”

Dion tersenyum lalu menatap Nadira, tangannya ia gunakan untuk menopang wajahnya, hal itu membuat Nadira tersenyum malu.

“Nadira, Lo kenapa senyum-senyum?” Tanya seseorang yang sudah duduk di hadapan Nadira. Nadira tersentak kaget sudah melihat Sisil berada di hadapannya. Dimana Dion? Bukannya tadi ada bersamanya, lalu mengapa sekarang menghilang dan berubah menjadi Sisil?
“Nadira, Lo kenapa sih?” Tanya Sisil kembali saat melihat Nadira yang seperti orang kebingungan.
“Sisil?” Tanya Nadira yang baru menyadari kehadiran Sisil di hadapannya. Sisil menghela napas sejenak. “Lo kenapa, Nad?”
“Dion” ujar Nadira seketika, kening Sisil mengkerut saat mendengarnya. “Dion mana Sil? Tadi dia ada disini? Lo liat Dion nggak? Atau mungkin dia buru-buru sampai nggak pamit sama gue?” Tanya Nadira bertubi-tubi. Dapat terlihat jelas bagaimana ekspresi khawatir dan bingung di wajahnya.
“Nadira” ucap Sisil, namun Nadira malah bangkit dari duduknya.
“Sil gue harus pergi, gue mau cari Dion. Kayanya dia ada di luar. Bye”
“NADIRA!” Sisil meninggikan ucapannya saat Nadira hendak melangkah, untung mereka berada di luar kedai saat itu.

Nadira menatap Sisil dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Dion udah tenang disana, Nad. Dia udah nggak bisa lo cari lagi kemana-mana” pernyataan itu mampu membuat Nadira terpaku di tempatnya, lalu ia kembali menghempaskan bokongnya di kursi dengan pandangan yang kosong, ia masih ingat saat di taman Sisil mengajaknya bertemu di kedai ice cream, tapi keterlaluannya ia malah berkhayal bahwa ia masih memutar kenangan itu sampai kini.

Nadira terdiam, ia sadar, Dion sudah tidak ada, ia sudah pergi, ia pergi dari hidupnya seolah terhembus angin tanpa kata. Memorinya kembali memutar saat kejadian ia dan Dion pulang sehabis melakukan fitting baju, kecelakaan itu berhasil merenggut nyawa orang yang sudah ia cintai walaupun hampir juga merenggut nyawanya dengan menjalani kritis selama beberapa minggu.

Tesss

Air mata itu kembali terjatuh, Nadira sadar, takdir memang selalu mempunyai cara sendiri untuk mengaduk perasaan seseorang. Dan kini takdir yang dulu ia harapkan sudah terenggut dan tak bisa menjadi kenyataan, semua kini telah maya, tak bisa menjadi nyata. Jiwanya sudah terbawa mati bersama raga sang kasih, ia rindu, sungguh. Dan jika takdir ini bisa berlanjut, ia hanya ingin satu; tidak mau untuk yang kedua kalinya.

Kamis, 22 September 2016

Kejutan dibulan Juli

Pagi ini udara terasa sangat sejuk, mentari yang sejak tadi bermain-main dengan gumpalan awan nampaknya masih asik dengan kegiatannya.
“Cuaca yang sangat bersahabat” batinku.
Kukenakan sweater favoritku dan siap-siap bergegas untuk lari pagi di taman kompleks sekitar rumah.
“Selamat pagi nona Yesi” sapa tetangga seberang rumahku.
“Selamat pagi kembali” balasku.
Yah, tetangga sekitar rumahku sangat bersahabat serta ramah tamah. Aku wanita yang super cuek, jelas saja terasa asing bilang bertemu dengan mereka, namun warga di sekitar kompleks ini sangat mengerti akan toleransi dan solidaritas sesama penduduk hingga mereka memaklumi akan sikapku yang kerap kali kurang baik menurutku. Pernah suatu ketika saat aku berada di pusat perbelanjaan ada seorang ibu paruh baya menyapaku, sontak saja aku terkejut dibuatnya. Aku yang terlalu sibuk akan rutinitasku membuatku lupa akan bersosialisasi dengan tetangga di kompleks sekitar rumahku. Untung saja ibu tersebut tidak mengetahui kebingunganku, aku hanya tersenyum ramah saat itu, namun masih dalam fikiran bertanya-tanya. Setelah beberapa hari berlalu, kudapati seorang ibu yang pernah menyapaku tempo hari ternyata tetanggaku yang rumahnya 2 block dari rumahku.
Tick Tock Tick… nada pesan masuk.
“Dari nomor yang tidak dikenal” batinku.
“Selamat anda lolos dalam seleksi terakhir dan dapat bergabung di perusahaan kami. Untuk kehadirannya pada tanggal 08/06/2014 pukul 09.00, diharapkan berpakaian hitam putih untuk melaksanakan proses training dan pembagian area penempatan kerja. Terima kasih.”
Syukur alhamdulillah, ternyata tuhan telah menjawab doaku. Setelah resign dari pekerjaan lamaku, hampir cukup lama aku menganggur. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur saat perjalanan pulang menuju rumah. Hari ini hatiku sangat bahagia seperti alunan melodi yang sedang kudengarkan saat ini, hingga diriku hanyut ke dalam alam bawah sadar, sedetik kemudian diriku telah tertidur lelap.
“Nyenyak sekali tidur siangku kali ini” gumamku.
Kucek handphoneku yang sejak tadi masih dalam keadaan Play Music. Ada 3 panggilan tak terjawab dan 1 pesan masuk. Kuperiksa status panggilanku, ternyata orang yang menelepon itu, seseorang yang kukenal, kemudian ke pesan masuk dan ternyata dari orang yang sama.
“Kamu kemana saja? Aku meneleponmu, tapi tak ada jawaban. Hari senin besok pastikan tak ada acara ya, aku tunggu di tempat biasa kita bertemu jam 7 malam. Ok, see you later.” Pesannya
“Maaf, aku ketiduran. Iya aku pasti datang.” Balasku
Dia adalah seorang pria yang pernah singgah di hatiku, kami pernah menjalani sebuah hubungan, namun akhirnya kandas di tengah jalan, 10 bulan kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Sampai saat ini aku masih mencintainya, dia adalah kekasih dan juga cinta pertamaku. Setelah mengakhiri hubungan kami, kami berjanji tidak akan saling menjauh satu sama lain, tidak putus komunikasi dan menjalin hubungan pertemanan yang baik. Mungkin aku terkesan manusia paling naif, jujur saja aku masih mempercayainya, mengharapkannya dan menanti janjinya. Aku bukan seseorang yang mudah untuk jatuh cinta hingga membuatku gagal move on sampai saat ini, banyak pria yangg dekat denganku namun hanya sekedar teman atau relasi untukku. Masih terekam jelas di memoryku masa dimana kami masih bersama, janji yang pernah kami buat, komitmen yang pernah kami bentuk, namun semuanya sirna hanya tinggal kenangan. 3 tahun sudah aku mengenal dan dekat dengannya namun tak ada keberanian di diriku untuk menanyakan hubungan asmaranya. Apakah dia sudah memiliki kekasih atau belum? Apakah dia sedang menjalani hubungan serius dengan seorang wanita? Bodohkah diriku masih menunggunya? Naifkah diriku masih menyimpan perasaan untuknya? Pertanyaan inilah yang selalu mengganggu fikiranku, membuatku terperangkap dalam kesunyian yang mendalam.
“Bismillah” kata pertama yang kuucapkan pagi ini.
“Semangat Yesi, hari pertama bekerja berikan kesan terbaikmu.” Tekadku dalam hati.
Kulajukan sepeda motorku dengan sangat santai karena sekarang masih pukul 8 pagi, kusapa setiap orang yang kulewati, pagi ini harus menjadi hari yang sangat istimewa karena ada 2 peristiwa penting dalam sejarah hidupku hari ini. Pertama, telah lepas status pengangguranku hari ini. Ke 2, hari ini, hari dimana aku pertama kali mendapat pernyataan cinta dari seseorang. Setengah jam aku sampai di kantor baruku, yah inilah pekerjaan yang sejak awal selalu aku impikan.
“Welcome My Dream” gumamku.
Hari ini cukup melelahkan, namun aku bahagia. Aku menikmati pekerjaan baruku, karyawan yang lain menyukaiku dan aku nyaman berada di perusahaan ini. “Semoga karirku cerah di perusahaan ini.” Doaku sore ini.
Sudah pukul setengah 7, kulajukan sepeda motorku dengan kecepatan sedang, hanya butuh 15 menit untuk sampai di tempat itu. “Sepertinya dia belum datang” fikirku. Kuambil tempat duduk di area outdoor. Lalu kukirimkan pesan untuknya.
“Kamu dimana? Aku sdh sampai, aku menunggumu di area outdoor.” Pesanku
“Iya tunggu sebentar, aku segera datang.” Balasnya
Sudah pukul 7.15 dia belum juga terlihat, perutku sudah mulai lapar, kupesan ice cream coklat dan kentang goreng untuk mengganjal perutku. Sepertinya akan ada pesta malam ini di ruang party, karena terdapat banyak dekorasi yang terpasang disana. “Kenapa dia lama sekali” batinku.
Setengah 8 kurang, udara malam ini sangat menusuk, hingga membuat tulang-tulang persendianku terasa ngilu. Kudekap kedua lenganku, mengurangi rasa dingin yang semakin kejam menjalari seluruh tubuhku, aku lupa membawa sweater biru muda kesayanganku, andaikan aku tidak melupakannya mungkin saja aku tidak semenderita ini. Apakah dia ingat hari ini? Apakah dia membelikanku sesuatu hingga dia terlambat sampai saat ini? Ah sudahlah jangan berfikir yang macam-macam. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku, oh ternyata dia.
“Kamu dari mana?” Tanyaku
“Maaf di jalan sedikit macet” Jawabnya
“Hampir saja aku tertidur” Candaku
“Memang kamu si ratu tidur kan” Ledeknya
“Huh, jahat.”
“Hahaha. Maaf sudah membuatmu terlalu lama menunggu.”
“Andai saja kamu tahu, sudah 3 tahun aku menunggumu. Oh bukan, maksudku menunggu cintamu.” Batinku
Kenapa dia sangat berbeda malam ini, dia sangat mempesona. Oh tidak, ya Tuhan apa sih yang sadang kufikirkan sekarang. Mendadak dia bangkit dari tempat duduknya dan mendekati tubuhku, ternyata dia memasangkan jaketnya ke tubuhku. Mungkin dia melihat diriku yang sedikit menggigil kedinginan.
“Ayo kita masuk” Ujarnya
“Kemana?” Tanyaku
“Ke ruangan itu”
Lalu kami berdua masuk ke ruangan party yang kulihat sekilas tadi, menakjubkan sekali, ruangan itu terlihat seperti pesta taman, dekorasinya sangat luar biasa. Sudah ada seorang pembawa acara disana dan beberapa orang yang memakai kaos yang bertuliskan huruf.
“Selamat malam nona Yesi” Sapanya
“Selamat malam”
“Mungkin nona Yesi sedikit bingung dengan tempat ini dan beberapa orang yang ada di depan anda?”
“Iya, ini ada apa?”
“Ya, saaa akan menjawab semua pertanyaan anda. Disini kita akan bermain suatu permainan, seperti permainan menyusun huruf. Jadi tugas anda adalah menyusun semua huruf yang di pakai oleh orang-orang di depan anda hingga membentuk suatu rangkaian kalimat. Anda mengerti nona?”
“Ya, aku mengerti.”
Hmmm, permainan menyusun huruf, ini seperti permainan scrabble yang pernah ku mainkan waktu sekolah dulu. Sepertinya aku bisa menyusunnya, e-m-r-a-r-m-y-y-o-u-l-l-i-w? Huh sulit sekali menyusun huruf-huruf ini, tapi tunggu dulu “my war our milley?” Apakah ini maksudnya?
“Bagaiman nona, sudah tersusun?”
“Aku tidak yakin”
“Silahkan nona”
“Apakah ini susunannya? My war our milley?”
“Hmmm. Maaf nona susunan anda salah.”
“Jadi yang benar apa?”
Sedetik kemudian orang-orang yang telah memakai kaos bertuliskan huruf itu mengubah posisi mereka. Tanpa kusangka ternyata huruf-huruf itu membentuk kalimat bertuliskan “will you marry me?” Ya tuhan apa maksud dari semua ini?
Mendadak suasana menjadi hening.
“Yesi. Will you marry me?”
Sambil bersimpuh di hadapanku dia mengucapkan “will you marry me?” dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku kemejanya lalu membukanya, kotak itu berisi sebuah cincin emas. Pengunjung yang sejak tadi memperhatikan kami, sudah antusias menyuarakan “terima, terima, terima…”
Namun yang terucap dari mulutku kata “Maaf”. “Maaf, aku tidak bisa menerimanya.” Terlihat raut rasa kecewa di wajahnya, namun aku tidak bisa menerimanya.
“Maaf. Maksudku aku tidak bisa menerima perlakuanmu malam ini, kamu terlalu romantis malam ini.”
“Jadi?”
“Yes, I will marry with you. I always love you yesterday, now, tomorrow and forever.”
Tepat hari ini 08/06/2014 dia melamarku di depan pengunjung restoran tersebut. Aku sangat bahagia tuhan, malam ini adalah mimpi terindah yang pernah ku alami. Awan hitam dan badai hujan telah berlalu, kini saatnya warna-warna pelangi yang menghiasi hidupku.
2 tahun kemudian
08/06/2016 hari ini adalah hari pernikahanku, tepat di usiaku yang ke 25, sesuai dengan janjinya 5 tahun silam. Terima kasih tuhan, telah memberikan kebahagiaan yang tiada hentinya. Aku bahagia bersamanya, kan kujaga kejutan terbaikmu untukku selamanya.
Cinta kadang harus meninggalkan luka, namun cinta sejatilah yang akan menjadi obat terhebat penebus luka.


Sebuah Janji

Arya membuka mulut perlahan, akan menjawab pertanyaan Rima. Namun saat ia akan menjawab, seseorang memasuki ruangan poklinik.
“Permisi…” Ucap suara itu.
“Oh silakan…” Kata Bu Rahmi ramah. Masuklah seorang wanita cantik dan modis.
“Udah periksanya?” Tanya wanita itu pada Arya. Ia lalu tersenyum pada dokter di hadapannya.
Rima tercengang. Ia berusaha membaca situasi di depannya. Pandangan Rima teralih ke sebentuk cincin yang melingkar di jari manis tangan kiri Arya, cincin itu serupa dengan yang melingkar di jari manis wanita itu. Seketika itu juga ia menarik kesimpulan. Lalu hatinya hancur berkeping-keping…
“Kamu tunggu di luar aja, sebentar lagi kok periksanya!” Kata Arya dengan kesal. Ia jelas kaget wanita itu muncul tiba-tiba di hadapan Rima.
“Kok kamu kasar gitu sih ngomong sama tunangan sendiri?” Sungut wanita itu. “Maaf Dok, Sus, saya tunggu di luar aja. Permisi…” Wanita itu ke luar dan menutup pintu.
Rima merasa jiwanya tidak lagi bersatu dengan tubuhnya. Pria yang mati-matian ia tunggu selama 7 tahun sudah bertunangan dengan wanita lain. Pandangan Rima mendadak kabur. Nafasnya mulai sesak.
“Ehm.. Rima..” Arya salah tingkah. “Ini nggak seperti yang kamu lihat Rim… dia…”
“Selamat ya, akhirnya kamu bisa dapetin orang yang pantas menjadi ibu dari anak-anak kamu. Aku turut seneng ngedengernya, Arya.” Potong Rima cepat setelah ia berusaha kuat menguasai diri.
“Rima…”
“Maaf Arya, tapi poliklinik seharusnya sudah tutup dari tadi, hanya kami berusaha memberikan pelayanan sebaik mungkin, sehingga meski pasien datang terlambat, kami akan tetap menunggu.”
“Rima, tolong dengerin penjelasan aku dulu…”
“Pak Arya, saya sama suster juga mau istirahat. Tolong Bapak kooperatif, saya akan periksa dan kasih resep untuk Bapak secepatnya. Jadi apa keluhan Bapak?”

Rima menangis sesenggukan di dalam mobilnya. Betapa teganya Arya mengkhianati dirinya. Atau lebih tepatnya betapa bodohnya ia mempercayai begitu saja janji Palsu Arya. Membuat ia menolak lamaran pria yang datang padanya. Atau lebih tepatnya menolak semua cinta yang datang setelah Arya. Karena ia terlalu mempercayai janji Arya. Semuanya telah berakhir. Rima berniat bangkit. Bukankah ia sudah biasa sakit, jatuh, dicemooh, dihina? Tapi dikhianati lebih sakit dari apapun.
Sebulan berlalu. Rima memutuskan untuk tidak berlarut dalam kesedihan. Efek dari semua ini ialah Rima menjadi sulit percaya pada orang. Bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Selama sebulan lebih, Arya tak lagi menampakkan diri. Rima paham, Arya sudah terlanjur mengikat janji baru dengan tunangannya. Semoga mereka segera menikah, dan hidup bahagia, doa Rima dalam hati.
“Dok, ada paket kiriman,” Kata Bu Rahmi ketika poliklinik baru saja usai. Rima mengernyitkan dahinya. Bu Rahmi menyerahkan sebuah kotak besar berwarna biru muda bertuliskan:
Kepada:
Yth.
Dr. Rima Auliani
Di tempat
Rima menerima kotak biru itu. “Dari siapa ya Bu?” Tanya Rima setelah ia mencari-cari alamat si pengirim dan tidak menemukannya.
“Nggak tau Dok, tadi orang dari administrasi yang nganterin,” Jawab Bu Rahmi. “Dok, saya bener-bener mendoakan, semoga dokter cepat berjodoh dengan laki-laki yang baik.”
Rima tersenyum, “Makasih Bu.”
Di rumah, Rima mulai membuka kotak biru itu. Isinya ternyata sebuah buku catatan yang cukup tebal. Sampul buku itu sudah hampir lepas, menunjukkan bila buku tersebut sering sekali digunakan. Rima bingung. Siapa yang mengirimkan buku catatan ‘lecek’ ini padanya? Dan apa maksudnya mengirimkan semua ini?
Rima membuka halaman depan buku itu…
Arya Indrawijaya
All about My Dreams, My Love, and My Life, RIMA AULIANI
Begitu tulisan pertama yang dibaca Rima. Hati Rima kembali sakit. Arya memberikan buku diarynya pada Rima! Apakah ini hadiah perpisahan dari Arya?
15 Agustus 2003
Penjual gorengan itu bernama Rima. Entah kenapa, setiap melihat ia bersepada di siang yang terik, aku tak rela. Ingin kuberi tumpangan, ia sering menolak. Ah… Rima.. Rima… Rima… aku baru sadar, mimpiku mulai dihantui oleh Rima.
25 September 2003
Aku selalu lapar, bila melihat gorengan-gorengan milik Rima di kantin. Setiap memakan gorengan itu, aku membayangkan Rima membuat gorengan itu dengan tangannya.. Aaahhh… aku bener-bener gila!
7 Desember 2003
Aku benar-benar marah! Bila tak ingat ia adalah wanita, aku mungkin udah menampar mulut busuknya itu! Damned Sofie!! Menyakiti Rima berarti menyakiti aku 10 kali lipat! Siapa peduli latar belakang Rima? Siapa peduli ia tukang gorengan? Aku menyukainya! Jadi bila aku menyukai seorang tukang gorengan, apakah itu masalah??!
Rima berhenti sejenak. Air matanya mulai membasahi buku diary Arya. Ia meraih tissue di meja. Membaca buku diary Arya mengingatkan dirinya pada kehidupan masa lalunya yang penuh derita dan air mata. Namun kuasa Allah begitu besar. Saat ini ia duduk tidak lagi sebagai tukang gorengan yang dicemooh teman sekolahnya, melainkan sebagai seorang dokter, profesi yang banyak dikagumi semua orang.
15 Juli 2004
Aku ingin kuliah ke luar negeri. Cambridge University pilihanku. Public Relations. Aku ingin sukses seperti Papa, dan kelak aku ingin mengajak Rima mengarungi hidup bersama, dalam ikatan perkawinan. Tentu bila ia bersedia. Wah, aku terlalu percaya diri… bisa saja Rima menolakku! Ya Allah, buat hati Rima menerimaku, 7 tahun lagi! Please…
December 19 th, 2004
Baru beberapa bulan aku di sini, rasanya seperti berabad-abad… aku kangen Rima! Udara yang cukup ekstrem hingga minus 15 derajat bikin aku makin pengen pulang!
Rima berhenti lagi membaca. Ia mengusap-usap goresan tinta yang menuliskan namanya di buku diary itu. Setitik air matanya menetes membasahi tulisan Arya dan membuat kertas diary itu menebal basah.
Rima melanjutkan membaca. Arya setidaknya menulis diary itu sebulan sekali, atau bahkan dua bulan sekali. Namun tahun demi tahun yang bertambah setiap Rima bergerak maju membuka lembar demi lembarnya, namanya tak pernah absen dari diary itu. Itu menunjukkan Arya cukup setia untuk waktu yang lama.
Mata Rima mulai bergerak ke tahun-tahun yang mulai mendekati tahun sekarang. Arya menceritakan bagaimana akhirnya ia lulus dari University of Cambridge dengan nilai-nilai memuaskan. Meskipun tidak meraih gelar cumlaude, prestasinya cukup membanggakan. Dan bagaimana Arya memutuskan untuk melanjutkan S2 di sana, bagaimana akhirnya ia menemui hambatan dalam pengerjaan tesisnya hingga masa kuliahnya mundur…
Akhirnya, Mata Rima bergerak membaca tulisan Arya di tahun terkini…
6 Januari, 2011
I’m Home! 7 tahun berlalu tanpa terasa. Aku begitu merindukan papa, mama, rumah, semuanya… dan aku juga merindukan Rima. Aku menang! Aku berhasil memenuhi separuh dari janjiku 7 tahun lalu pada Rima. Yah, tinggal 50% lagi, 10% untuk mencarinya, 20% untuk melamarnya, dan 20% untuk menikahinya.
8 Januari 20011
INI GILA. BENER-BENER GILA! Siapa cewek norak itu? Kenapa Papa sama Mama nggak pernah bilang mau ngejodohin aku? Sama cewek norak lagi! Aaarrrggghhh!!! Please Mam, Pap… anak kalian baru aja pulang dari negeri yang jauh, menuntut ilmu… kenapa kalian malah bikin bencana besar buat aku sih?! Tau gini, mending lanjutin S3 sekalian di sana!
9 January 2011
Oke. Alasan klise. Mau ngejodohin aku dengan cucu pengusaha besar, yang tak lain adalah cucu sahabat kakek. Aku dituntut harus menerima semua malapetaka ini, karena kakek telah terlanjur mengucapkan keinginannya itu untuk menjodohkan aku dengan cucu sahabat dekatnya, sebelum Kakek meninggal tahun lalu. Damn…
10 January 2011
Mama dan Papa menangis di hadapanku. Mereka memohon kepadaku untuk bersedia menerima perjodohan itu, demi keinginan terakhir Kakek. Rasa cinta akan tumbuh seiring waktu, itu alasan klise mereka. Hatiku berontak. Jiwaku merana. Aku ingin kabur ke luar negeri dan tak kembali lagi. Namun aku teringat Rima dan janjiku padanya. 4 hari yang lalu aku senang karena berhasil memenuhi 50% janjiku padanya. Namun kini aku malah akan menghapus 50% itu, dan menggantinya dengan 100% penderitaan!
15 Maret 2011
Aku telah bertunangan dengan orang yang tak kucintai. Kadang aku teringat Kakek dan sifatnya yang keras. Tak seorang pun berani membantahnya. Seandainya Kakek masih hidup, dan tahu aku tak bahagia dengan pilihannya, apakah Kakek masih ingin memaksaku?
30 Maret 2011
Ini puncak segalanya. Aku demam 5 hari belakangan ini. Belum lagi rasa mual dan nafsu makan yang menurun. Mama menyuruh Rani untuk menemaniku berobat. Dan aku pun bertemu dengan satu-satunya perempuan di dunia ini yang mengisi ruang hatiku lebih dari 8 tahun tanpa tergantikan oleh siapapun. Dokter Rima Auliani. Penjual gorengan yang sering diremehkan teman-temannya itu kini bertransformasi menjadi seorang wanita yang tak mungkin lagi ada yang berani merendahkannya. Ia bertambah cantik dalam balutan jilbabnya. Belum lagi profesi mulia yang ia sandang. Senyumnya masih sama seperti 8 tahun yang lalu. Aku kaget dan tak menyangka. Namun kebahagianku karena bertemu cinta abadiku itu dengan cepat musnah, saat aku tersadar aku telah bertunangan, dan wanita sumber petaka itu ada di luar menungguku. Hatiku bergetar hebat. Rima masih memenuhi janjinya. Aku bahagia, ia mau menunggu untukku. Namun apalah arti semua ini, penantian kami lebur oleh ketukan pintu Rani, sosoknya yang memasuki ruang praktek dokter, dan menyebut-nyebut dirinya sebagai tunanganku. Hatiku pecah berkeping-keping. Rima membenciku. Ia menyangka aku mengingkari janji kami…
7 April 2011
Aku benar-benar sakit. Typus. Rima mengatakan kemungkinan aku menderita penyakit ini seminggu lalu, waktu aku berobat padanya. Dan hasil tes darahku yang kedua kalinya pagi tadi menunjukkan aku benar-benar terinfeksi Salmonella. Aku hanya mampu tergolek lemah di tempat tidur karena aku menolak rawat inap. Saat Mama dan Papa menghampiri tempat tidurku, aku berkata terus terang kepada mereka, bahwa aku tak bahagia bertunangan dengan Rani. Aku mencintai wanita lain. Kukatakan pada mereka untuk nikahkan saja aku dengan Rani, bila mereka ingin aku mati pelan-pelan lalu menyusul almarhum kakek. Mama menangis memohon maaf padaku. Papa tak mampu berkata-kata. Mama malahan meminta Papa untuk membatalkan tunangan ini. Kakek telah meninggal, dan beliau pun ingin cucunya bahagia. Rupanya ucapanku kali ini benar-benar mempengaruhi mereka. Mama dan Papa berjanji padaku akan mengatur semuanya. Yah, tak mudah memutuskan tali pertunangan dengan cucu pengusaha besar. Bisa terjadi permusuhan besar yang berujung pada meja hijau…
29 April 2011
Aku tak tahu apakah peristiwa hari ini bencana atau anugerah. Tepatnya bencana untuk Rani dan anugerah untukku. Aku mendapati Rani kencan dengan pria bule di sebuah restaurant Jepang. Awalnya aku curiga karena Rani sering menerima telepon sembunyi-sembunyi. Hingga kemarin siang, aku menguping pembicaraan Rani di telepon, yang penuh ungkapan sayang, dan mereka membuat janji bertemu di restaurant itu. Aku benar-benar bahagia mendengar ini. Segera kuikuti gerak-gerik Rani, kurekam saat ia sedang bermesraan dengan bule itu. Lalu aku mendatangi mereka, penuh senyum kemenangan. Kukatakan aku senang, akhirnya aku menemukan alasan yang bagus untuk memutuskan tali pertunangan dengan wanita murahan seperti Rani! Betapa jauh lebih berharganya Rima-ku dibandingkan perempuan jal*ng itu. Rani menangis mohon maaf padaku, namun percuma saja. Aku benar-benar bahagia! Tak butuh waktu lama untuk menampilkan video ini pada Papa, Mama, dan orangtua serta Kakek Rani. Lalu selamatlah aku dari malapetaka. Alhamdulillah…
30 April 2011
Problem Solved! Ini seperti mimpi. Semudah inikah aku selamat dari kandang macan? Sekarang tinggal memikirkan cara, bagaimana membuat Rima menerimaku lagi, dan percaya bila aku tak pernah sedikitpun mengkhianatinya.
Rima membuka lembar terakhir diary Arya. Ia tak menemukan tulisan apapun lagi dari lembaran diary itu. Matanya membengkak merah, hidungnya seperti sedang flu berat. Rima membalik-balik halaman diary itu, mencari kata-kata lain. Baik itu alamat rumah, maupun nomer telepon. Namun ia tak menemukannya. Sesaat sebelum menyerah, Rima mengerling kotak biru yang digunakan untuk membungkus diary itu. Ada kertas kecil yang ditempel di dasar kotak biru itu, dan sedari tadi Rima tidak melihatnya karena terlalu penasaran dengan diary itu. Rima membaca tulisan Arya di kertas itu:
Would you marry me, Dr. Rima Auliani?
Call me please, 0851200386
With love, Arya Indrawijaya
Rima tersenyum bahagia, terutama saat membaca 6 digit terakhir nomer handphone Arya, yang merupakan kombinasi tanggal, bulan, dan tahun kelahiran Rima.

Kamis, 01 September 2016

Di Balik Awan

Di Balik Awan

Cerita Cinta Romantis 2016 yang bakal bikin kamu meneteskan air mata

Di balik awan
Ku menunggu itu datang.
Ku tatap langit berharap itu terjadi.
Berharap dan terus berharap
Mimpi kecil yang masih berada di balik awan.
Agar awan itu pindah dan mimpiku bisa jadi kenyataan
Terlalu konyol ku katakan tetapi itulah kenyataanya. Ku bernama Nur Faida, bisa di panggil faida. Aku ingin sekali mimpi kecilku itu terwujud sebari ku menunggu sejak kecil sampai kelas 3 SMP sekarang. Entah kenapa, aku ingin sekali itu terwujud dan sekarang mimpi kecilku itu menjadi kenyataan.

Hari jumat sepulang sekolah, ku pandang langit yang bersahabat denganku. Ku berlari secepat mungkin karena ku tak mau temanku ninda memelukku dan aku tak mau menjadi kue bercampur kopi. Begitulah masa remaja menurutku, setiap ada teman kita yang ulang tahun pasti ujung – ujungnya orang yang berulang tahun itu akan ditaburi maupun di lempari dengan terigu , air dan telur maka menjadilah kue dan di berikan juga kopi.Ku beruntung sekali, aku tidak terkena semua itu dan kami sekelas perempuan semuanya pergi kerumah ninda.


Saat ku lihat Ninda , ada rasa iri diriku. Sejak kecil ulang tahunku tidak pernah dirayakan oleh teman – temanku semua, ku memang pernah dirayakan ulang tahunku tapi aku hanya 1 kali itupun ku sama keluarga ajah. Ku ingin sekali ulang tahunku dirayakan oleh teman – teman semua, aku selalu menunggu sampai sekarang ini. Ku fahami itu bahwa tanggal lahirku 3 Agustus 1998 jadi ulang tahunku sulit untuk dirayakan karena pada bulan kelahiranku itu adalah bulan ramadhan tetapi ku ingin sekali itu di rayakan walau ditunda waktunya.

Dirumah Ninda, kami semua menunggu 2 teman kami yang akan membawa kue ulang tahun untuk Ninda. Banyak hal yang temanku lakukan semuanya saat menunggu 2 teman kami dan juga ninda yang sedang mandi ini. Ada yang saling berbincang - bincang , main – main bersama dan perbaiki kudung.

Tak lama kemudian, Atul dan Dilah datang membawakan kue ulang tahun berbentuk segi empat untuk Ninda . Teman – temanku pun menancapkan lilin. Betapa senangnya Ninda pastinya akan hal ini.
“Happy birthday Ninda!”sorak semua temanku saat Ninda turun dari tangganya.
Nindapun gabung pada kita semua dan kami semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan Nindapun meniup lilinnya lalu memotong kue ulang tahun yang di beli dari kumpulan uang semua teman di kelas kemudian kamipun semunya memakan kue ulang tahun itu yang ternyata masih ada sisa sepotong kue Ulang tahun Ninda yang kira – kira besarnya 40 derajat.

Tak ku sangka Wawa,Inna dan Icha seseorang yang sudah ku anggap sahabat itu menancapkan lilin lebih dari 8 dengan api yang sudah berada di pucuknya dan menghampiriku.
“faida! Selamat ulang tahun yah. Kan Ulang Tahunmu belum dirayakan waktu itu”kata Wawa yang berada di depanku dengan membawa kue Ulang tahun.

Mereka menyanyikan Lagu Selamat Ulang tahun dan akupun meniupnya. Ya Allah, aku sangat gembira sekali sekaligus terharu. Aku ingin sekali menangis karena saking senangnya tapi ku tahan mataku agar tidak menangis. setelah itu iseng – isengnya wawa mencolek kue itu dan memberikan mukaku bedak kue.Astaga, reflex saja aku membalasnya dan juga Inna melakukan hal seperti itu. Akan hal itu, kudungku jadi kotor dan mereka berdua juga

Alhamdulillah, akhirnya mimpi kecilku sudah terwujud dan selang beberapa hari setelah itu mereka berdua memberikanku kado ulang tahun untukku sebuah pulpen berwarna hijau. Aku sangat senang karena sekiang lama ku menunggu akhirnya terwujud juga. Terimah kasih ya Allah engkau sudah mewujudkan mimpi kecilku itu. Mimpi yang dulunya berada di balik awan sekarang sudah menjadi kenyataan. Itulah mimpi kecilku, ingin dirayakan ulang tahunku dan di beri kado.

Sebatas Cinta Untuk Kita

Sebatas Cinta Untuk Kita

Cerita Cinta Romantis 2016 yang bakal bikin kamu meneteskan air mata

Ingin ku berlari jauh
Namun aku tak mampu
Bersembunyi darimu
Selaluku tepis bayanganmu
Tapi luka semakin menganga dalam kalbu
Kubiarkan semua apa adanya
Meski ku semakin larut dalam harapan hampa
Aku tunggu ketulusanmu
Walau harus selamanya
Aku memendam rindu. . .

Mungkin itulah sebuah curahan hatiku ini, yang dilanda kesedihan karena cinta. Padahal ini adalah pertama kalinya aku jatuh cinta. Namun, cintaku aneh. Mencintai dia, yang mempunyai saudara kembar yang membenciku. Ya, sosok yang aku cintai itu mempunyai saudara kembar. Namanya Angga dan Anggi. Anggalah yang aku cintai. Dia telah berhasil menarik hati ini, untuk mencintainya. Sedangkan Anggi. Huft, dari tatapannya aja, aku sudah bisa menilai, kalau dia membenciku. Entah aku sendiri juga nggak tau, apa salahku.
Sebatas Rasa Untuk Kita

Angin berhembus, menerpa wajahku dan menusuk tubuhku yang dibalut jilbab. Aku terus terduduk di rumput, sambil menatap gunung yang menjulang tinggi dari kejauhan mataku.
Pikiranku teringat pada kenangan masa SMP dulu.

Sampai di perpus. . .
“Nil? Loe dicariin orang tuh!” lapor Icha, sahabatku.
“Siapa?” tanyaku cuek.
“Hmm… siapa ya?” Icha pura-pura mikir, sambil menggodaku. Aku mengangkat satu alis.
Icha melihat sesuatu. “Sama dia!” tunjuk Icha pada Angga, yang baru menginjakkan kaki di perpus. Aku bengong. Benarkah yang dikatakan Icha ini? Angga menatapku sambil tersenyum. Hatiku entah mengapa, jadi cenat-cenut. Akhir-akhir ini, semenjak sering bertemu Angga selalu perhatian dan rajin ke perpus. Aku cuek, tidak mengubris. Toh pekerjaanku sebagai anggota perpus, masih menumpuk.
“Aku bantuin ya?” tawar Angga, dengan senyum tulus. Ia sedikit salting.
Tak kuat menahan senyum, akhirnya aku tersenyum juga buat dia. “Up to you.” Jawabku.

Dan benar saja. Angga membantuku. Ia tata rapih buku-buku yang berantakkan. Aku tersenyum melihatnya.
“Cie… cie…” goda Faris. Sahabat Angga. Aku dan Angga masa bodo. Memang persamaan kita disekolah itu, sama-sama cuek. Namun, walau Angga cuek, tapi banyak saja cewek-cewek yang mendekatinya.
Aku tersadar, sambil tersenyum mengingat itu. Mataku tetap menatap pemandangan gunung di kejauhan. Pikiranku kembali teringat kenangan masa SMP.

Waktu itu, aku sakit di sekolah. Perutku sakit dan kepalaku terasa pusing. Akhirnya aku dibawa ke ruang uks, dirawat oleh anak PMR kelas delapan. Tiba-tiba datang salah satu anak PMR, bernama Sufi.
“Kak, dapat surat nih!” katanya sedikit menggoda.
“Dari siapa?” tanyaku. Keningku berkerut bingung.
“Sufi udah janji, sama orangnya, nggak bakal ngasih tau namanya ke kakak. Maaf ya kak!” terangnya.
Aku heran, namun langsung kubuka saja surat itu, dengan perasaan campur aduk.

Mengenalmu
Anugerah dalam hidupku
Memilikimu
Itu yang selalu ku harapkan
Membiarkanmu berlalu
Tanpa sepatah kata pun
Yang terucap dari bibirku
Adalah suatu kebodohan dihidupku
Karena telat bagiku menyadari
Kau sangat berarti di dalam hidupku
Hanya secercah penyesalan
Yang bisa ku rasakan
Disaat ku kehilanganmu
Dan menyadarinya…
Semoga kamu cepat sembuh…
Keningku berkerut lagi membaca surat itu. Namun aku terharu dengan kata-kata di surat ini. Aku menatap kearah jendela yang tidak tertutup gorden. Tiba-tiba sosok yang aku rindukan selama seminggu ini, muncul. Angga. Ya, dia sedang berjalan disitu. Mataku menatapnya, hingga dia menoleh dan menatapku. Tatapan yang sulit untuk dilukiskan. Aku gugup. Segera saja, ku tundukkan kepalaku. Dan sekarang aku merasa ia telah pergi. Hari-hari ini juga, aku merasa dia menjauh dan menghindariku. Setiap bertemu, dia selalu melempar pandangan kearah lain. Dia juga sudah jarang ke perpus. Ada apa ini? Kenapa dia berubah seperti itu?

Tapi, setiap aku kenapa-napa, dia masih menunjukkan sikap perhatiannya. Seperti aku sakit sekarang. Dia menghampiriku dan ikut membawaku ke UKS. Setelah itu, ia pergi entah kemana. Aku tertidur di UKS. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang datang. Aku merasakan gerak-geriknya.
“Nggak tega juga, melihat kamu sakit begini. Kamu tau, aku memang cowok nggak jentel. Bertemu kamu aja, aku harus sembunyi-sembunyi. Aku harap kamu cepat sembuh ya. Aku bawakan sesuatu buat kamu!” Ucap seseorang itu, terdengar seperti suara cowok. Dia menyentuh keningku, dan langsung beranjak pergi. Mataku terbuka sedikit. Sungguh aku kaget. Aku tak menyangka. Ku kucek-kucek lagi penglihatanku. Namun itu nyata. Sosok itu adalah Anggi. Cirri-ciri fisiknyalah yang membuat ku yakin. Tatapanku beralih pada meja yang ada disampingku. Ada kantong plastik yang berisi makanan. Aku jadi bingung dibuatnya.
Hari-hari itu, kulalui dengan sebuah kebingungan. Namun, tiba-tiba aku tertampar oleh sebuah luka. Aku mendengar dari sahabatku, Angga sudah punya pacar. Sakit rasanya. Dari situ, entah ada rasa kecewa yang mendalam, hingga membuatku berniat untuk melupakannya dan melupakan rasa yang dulu memenuhi hatiku.
***

“Ukhti, Nila?” panggil adik kelasku, Zahra.
Aku menoleh ke asal suara. Seketika pikiranku buyar. “Madza?” tanyaku.
“Ukhti, mudifah!” jawabnya memberitahu.

Aku heran. Baru seminggu kemarin aku dijenguk, tapi sekarang di jenguk lagi. Ada apa gerangan? Ya. Aku memang melanjutkan studyku di sebuah Pondok Pesantren. Semua itu, dengan niat menuntut ilmu dengan mengharap ridho Allah dan untuk membahagiakan orang tuaku. Walau telah lama ditambah jauh. Tapi, tetap saja sebuah kenangan masa SMP masih teringat dibenakku.
“Oh, na’am. Syukron, Zahra!” balasku.

Zahra tersenyum. Aku segera bangun dari duduk. “Mudifah, aina?” tanyaku lagi.
“Masyroh.” Jawabnya.
Ternyata aku di jenguk di trimbun. Dengan langkah cepat, kuhampiri keluargaku disana.
***

Di samping kanan, dekat saung. Ada sebuah mobil. Tapi bukan mobil, yang biasa di pakai keluargaku. Mobil itu, merek kijang innova silver, bukan avanza silver.
“Nila!” panggil ayahku.
Aku tersenyum. “Ayah?” ku hampiri ayah dan mamaku. Ku cium punggung tangan mereka dan pipi mereka. “Kok cepat banget mudifahnya?” tanyaku, yang sedari tadi, keheranan.
“Ada yang mau bertemu kamu, sayang!” terang mamaku, sambil tersenyum misterius.
Keningku berkerut bingung. “Man, ma?”

Pintu mobil terbuka. Lalu keluarlah sosok Ibu dan Bapak paruh baya. Aku langsung mencium punggung tangan mereka. Mereka tersenyum ramah padaku.
“Kamu cantik sekali, nak!” puji sosok Ibu paruh baya itu.

Aku hanya bisa tersenyum. “Terima kasih, Bu!”
“Bu, Pak! Lebih baik kita duduk disini dulu, sambil menunggu Nila dan Angga berbicara.” Jelas ayahku, yang dibalas langsung dengan anggukkan mereka berdua.
Aku kaget bukan main, mendengar perkataan ayahku tadi.

Hah? Angga? Apakah aku salah dengar? Angga ada disini? Jadi, Ibu bapak ini, orang tuanya Angga… dan … Anggi?
“Assalammualaikum!” sapa Angga, yang baru keluar dari mobil.

Aku makin kaget, ketika Angga sudah ada dihadapanku. Satu tahun lebih kita tidak bertemu. Kini, kita bertemu di suasana berbeda. Angga terlihat lebih dewasa, memakai celana jeans hitam, dengan kemeja biru dongker.
“Wa… waalaikum salam.” Balasku gugup, sambil menunduk memainkan ujung kerudungku.
Angga tersenyum. “Kamu kaget ya, dengan kedatanganku ini. Aku ngerti kok. Karena suatu sebab, aku dan orang tuaku menemuimu disini.” Terangnya.
Aku mendongak. “Untuk apa?” tanyaku dengan suara lirih.
“Anggi.” Jawabnya singkat, namun mampu membuatku bagai tersengat aliran listrik.
***

Malu juga, berbicara dengan Angga di depan santri-santri yang juga sedang di jenguk oleh orang tuanya. Banyak yang ingin tau, sekedar bolak-balik, dan menatap. Aku risih. Lalu Angga mengajakku untuk bergabung dengan orang tua kita. Aku masih tertegun. Rasanya seperti mimpi Angga ada disini.
“Kamu kaget ya Nak, kami datang kesini?” ucap ayahnya Angga ramah. Aku hanya bisa tersenyum kikuk.
“Sayang, kali ini mama sama ayah, mengizinkan kamu untuk pulang.” Ucap ayahku.
“Pulang? Lho, memangnya kenapa, Yah?” tanyaku heran.
“Kami sama-sama sudah mengerti soal ini. Ini soal rasa, nak! Kamu sudah menanjak dewasa sekarang. Angga pun begitu. Wajar jika misalnya kamu sedikit berkorban untuk orang yang menyayangimu!” terang mamaku.
Sumpah. Aku benar-benar nggak mengerti dengan perkataan mama ini. Tanpa disuruh, mamanya Angga menjelaskan. Dan penjelasan ini, mampu membuatku menitikkan air mata.
***

Di rumah sakit, didalam kamar cempaka dua. Mataku terpaku pada satu titik. Anggi. Sosok yang dulu terlihat kuat, dewasa, dan ceria. Kini menjadi sebaliknya. Gerimis juga hati ini melihatnya.
“Kanker darah yang dideritanya, sudah stadium lanjut. Dokter hampir pasrah dengan kondisinya ini yang semakin parah. Kamu tau, dia selalu mengigau menyebut namamu.” Terang Angga, yang duduk di seberangku. Kini, mataku berani menatapnya, walau sebentar. Mataku kembali menatap Anggi yang terbujur lemah di ranjang rumah sakit.
“Benarkah yang dikatakan kamu ini, Angga? Sejujurnya, aku merasa Anggi membenciku.” Terangku.

Angga menggeleng kuat. “Tidak, Nil! Itu nggak benar. Anggi sebenarnya menyukaimu! Dia menyayangimu. Hanya saja, dia tidak tau, harus bagaimana menunjukkannya.”
Benarkah yang dikatakan Angga ini, Ya Allah! Ucapan Angga begitu meyakinkan. Tiba-tiba, jari jemari Anggi bergerak. Aku terkejut, namun lega.
“Nil… Nila…” lirih Anggi membuatku terkejut.
“Aku, disini Gi!” ucapku.

Mata Anggi melirik ke arahku. Ia tersenyum tulus. Hatiku bergetar. Ku balas senyuman itu. “Ma… ma… afkan… ak… ku…”
“Maaf? Untuk apa? Bagiku, kamu nggak pernah salah!” balasku, bingung.
“Ma… af. Jika se… la… ma… i… ni. Aku, mendiamimu! A… ku, men…yanyangimu, Nil!”

Hah? Anggi? Apa yang kamu katakan ini? Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku membisu.
“Wa… lau, ter… lambat ta… pi a…ku lega, Nil! Ma… ka… sih, u… dah mau nengok a… ku! Hhh…”
Grafik pendetak jantung, yang tadinya naik turun, kini berubah lurus beraturan. Itu adalah tanda, bahwa Anggi…
Ya Allah, aku mohon, izinkan Aku untuk melihat senyumannya lebih lama lagi! Aku mohon, kembalikan lagi nafas hidupnya, Tuhan!
Aku menangis. Baru kali ini, aku merasakan kehilangan. Walau sudah lama tak bertemu, Anggi tetap menjadi sebagian dari kisahku di masa SMP dulu. Ya Allah, ku mohon bahagiakanlah Dia di sisi-Mu!
***

Ku berjongkok di dekat pusara bernisan Anggi. Air mataku membulir. Disampingku, ada Angga yang dengan setia menemani. Kini tinggallah kami berdua yang menemani Anggi di rumah barunya.
“Kenapa kamu ninggalin aku, Gi! Kita belum lama berbicara, tapi kenapa kamu udah langsung ninggalin aku begitu saja. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih sama kamu waktu di UKS itu! Tapi aku selalu berdoa buat kamu, supaya kamu bahagia disana!” Ku elus lembut nisan Anggi. Aku masih terisak.
“Nil… kita pulang yuk?” ajak Angga, yang sedari tadi diam saja melihatku terisak. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
“Kamu baik-baik disini ya, Gi! Kita harus pulang. Kita akan selalu berdoa untukmu!” ucap Angga. Suaranya terdengar berat.
***

“Nil?” panggil Angga dari belakang.
Sedari tadi, di perjalanan pulang, aku memang berjalan membelakangi Angga. Langkahku terhenti, ketika mendengar dia memanggilku. Aku menoleh. Kini tinggal jarak kira-kira sekitar satu meter yang membatasi kami.
“Ada apa?” tanyaku.
“Masih ingatkah kamu, dengan surat yang aku titipkan sama Sufi?”
Aku mengangguk. Sedikit terkejut mendengarnya. “Jadi, surat itu darimu?” tebakku, walau sangat yakin.

Angga mengangguk kuat. Ia terduduk di bangku yang ada di sampingnya. Kepalanya tertunduk. “Sudah lama, aku mencintaimu, Nil!” meluncurlah juga sebuah kalimat yang Angga pendam selama hampir dua tahun ini. Aku kaget bukan main. Tak menyangka, ternyata sosok yang mengajari aku jatuh cinta, juga mencintaiku.
“Maaf jika aku lancang dan baru mengatakannya sama kamu. Waktu itu, aku bimbang. Karena aku harus memilih diantara dua pilihan. Anggi yang semakin parah, atau cintaku. Aku sudah tau sejak lama, kalau Anggi menyukaimu. Walau dia tidak pernah melihatkannya. Buku diarynyalah yang memberitahuku. Disaat itu juga, aku mengalah. Kesembuhan Anggi dan kebahagiaan Anggilah yang aku utamakan, dari pada cintaku!” Terang Angga panjang lebar.

Aku terperangah mendengar penjelasan itu. “Lalu, kenapa kamu melampiaskannya dengan pacaran?” tanyaku akhirnya.
“Selama ini, aku tidak pernah pacaran, Nil! Tika hanyalah teman. Nggak lebih. Semua itu hanyalah gossip biasa.”
“Lalu, apa maumu sekarang?”
“Kejujuranmu.”
“Aku juga mencintaimu, Ga!” balasku akhirnya. Angga menatapku. Ia tersenyum mengembang. “Tapi aku nggak mau, cinta ini membawaku dalam kemaksiatan dan kesesatan.” Lanjutku.

Angga paham. “Sudah lama, aku memahamimu, Nil! Aku mencintaimu, karena Allah!”
“Dan karena Allah-lah, aku ingin tidak menjalin hubungan special denganmu!”
“Aku mengerti. Tapi satu hal yang harus kamu tau. Hati ni, untuk kamu!”

Aku terharu mendengarnya.
“Lalu bagaimana dengan cinta ini?” lanjut Angga.
“Kita tunggu sampai waktunya tiba. Aku yakin, kalau kita jodoh, pasti Allah akan mempersatukan kita.” Jawabku yakin.
Angga tersenyum dan mengangguk yakin. Kami percaya. Pasti, jika Allah berkehendak kami jodoh, kami akan disatukan. Dan pasti Allah akan selalu menuntun hati kami. Ya Allah, mungkin seperti inilah SEBATAS RASA UNTUK KITA!

Pelangi

Pelangi

Cerita Cinta Romantis 2016 yang bakal bikin kamu menangis

“alama...”
Hening sejenak. Menyebalkan banget sih adik kelas ini. Emangnya dia nggak punya mata apa???bisa – bisanya bola yang dia tendang mengenai mukaku. huh... mukaku bonyok dehh ditambah hidungku yang pesek tambah pesek (*_*)!tapi jangan dulu. Rasa – rasanya aku tadi lagi duduk di taman dehh kenapa malah ada di tengah – tengah lapangan( ^>^)????
“aduh...! siapa yang berani melakukan. Ayo , ngaku??”teriakku keras dengan tatapan tajam kepada semua adik kelas yang berada di lapangan sambil memegang mukaku yang bengkah.
“aku kak! Emangnya kenapa?”jawabnya dan jalan menujuku dengan sok nggak bersalah.
“hei dek! Punya mata nggak sih kamu,emang matamu dimana??dasar adik kelas sinting”ucapku dengan lancar dan suara yang keras karena sebelku sama adik kelas ini yang sudah berada di hadapanku. Emangnya aku tembok apa? Gaduh dan semua orang yang berada di lapangan maupun sekitar lapangan menuju ke kami berdua karena penasaran apa yang terjadi.
“salah kakak sendiri tuh! Dasar kakak kelas gila. Siapa suruh kakak disini. Nggak lihat!! Kami semua ini lagi main bola dan entah kenapa kakak langsung saja berada di tengah lapangan”gumamnya kesal dengan kaki yang dihentakkan.
Pelangi

Bisa kulihat semua orang memperhatikanku dengan tatapan keanehan dan menertawaiku. Dan saat itu mataku menangkap sosok sahabatku yang berada di kerumunan orang- orang yang memperhatikanku dan dia memberi kode padaku agar aku menghentikan semuanya. Tapi aku sangat kesal banget sama nih anak jadi aku tak mengikuti apa yang dikatakannya.

Rasanya ku malu banget dehh.! Tapi apa dia mines nggak lihat aku disini.Gila nih anak. Mau mati apa? Rasanya ingin ku pukul anak ini!!! Beruntunglah karena dia ada di sekolah sekarang. Aku tak maulah masuk BK??terlalu memalukan bagi cewek yang imut sepertiku masuk BK(hihihi...emangnya aku imut apa)
“huh...! walau gitu apa kamu nggak punya mata apa? Baru anak baru lagaknya bagaikan anak yang sudah lama sekolah disini!!” ucapku dan itu memang benar dia adalah anak baru yang baru sekolah di selama 1 minggu walau gitu aku tidak tahu namanya.
“hei kak! Kakak sendiri yang salah. Dasar kakak kelas aneh. Tubuhnya ada disini tapi rohnya hilang entah kemana” tertawa dia sambil mengejekku
“what?”Ku sangat kesal sampai ubun – ubun. Huh... aku sudah tidak tahan dengan anak ini. Saat hendak ingin kutendang kakinya..! malah ada pak Abdul dibelakang kerumunan orang- orang yang memperhatikan kami berdua.
“ada apa ini? Semuanya kembali ke kelas”ucap pak Abdul dan sigap semuanya yang mendengar itu berbalik kebelakang.
“ada apa? Cepat kembali ke kelas dan kalian berdua tetap disitu”ucapnya, maka semuanya berhamburan kembali ke kelas dan aku sama adik kelasku itu tetap disini.
“hei..! ini semuanya karena kamu. Sungguh menyebalkan”ucapku geram padanya.
“aishh! Kakak tuh.”
“kamu..” kataku
“kakak tuh”
“ada apa dengan kalian berdua”nyerumbuk pak Abdul ikut dalam debakku bersama dia
“dia tuh pak. Lihat nih pak?”ucapku sambil menunjuk – nunjuk mukaku dan lanjut berkata “mukaku bengkak karena bola yang dia tendang mengenai mukaku! Sakit banget tau pak”
“benarkah itu Dino Anugrah Armansyah ?”tanyanya pada Dino. Ohwww jadi namanya Dino:*_*astaga , Saat itu aku beradu pandang dengannya. Aku merasa tidak asing dengan Dino. Aku kayak pernah bertemu dengannya tapi aku tidak tahu kapan. Apa mungkin hanya perasaanku ajah yah! Entahlah(%_%) dan aku baru sadar mukanya di atas rata – rata dengan kulit yang putih, bibir seksi, hidung yang mancung lalu manis lagi... aduhh keren banget nih Dino tapi itu tak dapat mengalahkan kekesalanku sama Risal
“iy , itu benar pak. Tapi akukan tidak sengaja dan juga itukan salahnya sendiri berdiri di tengah – tengah lapangan dan waktu itu aku bersama teman – temanku sedang main bola”jelasnya kepada pak Abdul dan balik ke aku dengan tatapan kesal.
“Lias..!Dino kan nggak sengaja. Jadi maafin ajah yah nak”dengan senyumnya yang selalu membuatku terhunyut. Entah kenapa setiap pak Abdul tersenyum aku sangat senang sekali.
“tapi pak..!”
“maafkan saja nak. Diakan nggak sengaja. Sekarang kalian berdua bersalaman”mintanya pada aku dan Dino.
“maaf pak. Bukannya aku nggak mau tapi dia bukan muhrimku! tapi aku maafin kok pak” tolakku dengan halus dan Saat ku katakan itu alis kanan Dino naik dan menatapku dengan keanehan.
“o iya yah nak. Jadi kalian sudah baikan kan. Sekarang kalian pergi ke kelas masing – masing”suruh pak Abdul pada kami berdua maka kamipun kembali ke kelas masing – masing.

Aku menuju ke kelasku dan ku lihat Dino mengekor di belakang.aku sadar itu karena kelasnya berada di belakang kelasku.
“Dino, maafkan aku yah soal tadi!”ku hentikan langka kakiku dan berbalik ke belakang.
“nggak apa – apa kak. Itu juga salahku. Aku juga minta maaf yah kak!”
“iya..!”
Semenjak itu, aku sama Dino jadi agak dekat sampe – sampe banyak teman – temanku bilang bahwa aku punya hubungan istemewa dengan Risal. Tapi aku tidak menggubris itu karena aku sadar siapa aku. Aku mempunyai wajah yang tidak begitu begitu cantik, tapi aku masih bersyukur dengan wajah yang kumiliki. aku sadar kalo nggak mungkin Risal menyukaiku dan juga aku nggak menyukainya karena aku hanya mencintai Doni.

Sekarang , ku bersama Dino lagi menuju ke perpustakaan untuk meminjam buku. Sebenarnya sih aku hanya sendiri ke sana tapi , Dino mau menemaniku jadi fine ajahlah.
“emangnya kak Rias mau pinjam buku apa?”tanyanya sambil jalan
“aku mau pinjam buku bertema agama” jawabku sambil mengaduk – aduk kantong rokku. Dino yang melihatku sibuk mengotak – atik kantong rokku bertanya lagi padaku
“ada apa kak?”tanyanya padaku
“kalungku hilang. Ehkkk..! gimana ini” aku menitikkan air mata.

Entah kenapa mungkin karena kalung itu mempunyai bekas kenangan indah jadi aku menitikkan air mata dan juga kalung itu permberian kado sahabat kecilku.
“kakak! Apa karena kalung itu?”
“Iya.. benda dari sahabat kecilku!”
“ini kak!” mengambil tissu dari celananya dan memberikanku sebuah tissu! ku kasih keluar ingusuku dengan suara nyrot...nyrot...!bisa ku rasa bahwa Dino cekikan menahan tawa melihatku.
“jangan tertawain aku! Huh...!”geramku pada Risal dengan tangan dipinggang. Hihihi... apakah aku ketahuan yah kalo aku lagi bercanda(^<^)
“hihihi...! kakak lucu banget deh. Ekting kakak kurang bagus tuhh”ucapnya sambil tertawa
“kau itu. Udahlah! Temani aku cari kalungku itu”mintaku

Sambil berjalan aku menceritakan tentang sahabat kecilku.
“Dino itu sahabat kecilku. Saat aku berumur 5 tahun , aku sangat dekat sekali dengan Dino. Aku bertemu dengannya tanpa sengaja di sungai yang tidak jauh dari rumahku. Aku dengan dia sama – sama suka melihat pelangi dan disitulah mulai pertemanan kami. Tetapi pertemanan ku bersama dia hanya selama 2 tahun karena dia mau pindah bersama orang tuanya ke Jakarta dan saat kepergiannya dia memberiku kalung untuk ku jaga dan sebagai kenangan. Saat dia mengatakan itu padaku , aku tak henti – hentinya menangis karena dia akan meninggalkanku. Pernah Dino memberitahuku bahwa dia mempunyai saudara kembar, tapi aku tidak pernah melihatnya. ” Ceritaku padanya.
“kak! Siapa nama panjang Doni?”tanyanya padaku
“hm.. Doni Anugrah Armansyah”ucapku enteng.
“ohwww...!”ucapnya dan meminta maaf padaku karena dia tidak bisa menemani mencari kalungnya karena katanya dia baru ingat bahwa dia lagi ada remedial B. Indonesia.
Aku merasa ada yang aneh dari Doni. Apa sebenarnya yang terjadi!!
***

Sambil berjalan kak Aris menceritakan tentang sahabat kecilnya.
“Dino itu sahabat kecilku. Saat aku berumur 5 tahun , aku sangat dekat sekali dengan Dino. Aku bertemu dengannya tanpa sengaja di sungai yang tidak jauh dari rumahku. Aku dengan dia sama – sama suka melihat pelangi dan disitulah mulai pertemanan kami. Tetapi pertemanan ku bersama dia hanya selama 2 tahun karena dia mau pindah bersama orang tuanya ke Jakarta dan saat kepergiannya dia memberiku kalung untuk ku jaga dan sebagai kenangan. Saat dia mengatakan itu padaku , aku tak henti – hentinya menangis karena dia akan meninggalkanku. Pernah Dino memberitahuku bahwa dia mempunyai saudara kembar, tapi aku tidak pernah melihatnya. ” Ceritanya padaku.
“kak! Siapa nama panjang Doni?”tanyaku
“hm.. Doni Anugrah Armansyah”ucapnya enteng.
“ohwww...!”ucapku dan meminta maaf padanya karena aku tidak bisa menemani mencari kalungnya bahwa aku lupa hari ini ku lagi ada remedial B. Indonesia maka akupun meninggalkannya (kataku dan berbohong pada kak Rias)
Aku tak tega melihat kak Rias begitu. Ingin ku ceritakan pada kak Rias kalo aku itu saudara kembar Doni. Tapi aku tak tega melihatnya. Aku tak mau melihatnya menangis! Aku sungguh sangat menyanyanginya. Sebenarnya itulah penyebab aku pindah sekolah ke sini untuk mencari cinta pertama kak Doni. Saat pertemuan pertama kali ku sama kak Rias aku sudah tahu kalau dia Cinta pertama kakakku tapi aku bepura – pura nggak kenal.
Kak Doni lebih duluan pulang karena penyakit gagar otak sejak bayi dan itulah sebenarnya penyebab kami pindah ke Jakarta untuk mencari rumah sakit besar di sana untuk perawatan kakak tetapi kak Doni sudah duluan di ambil oleh Allah SWt. Waktu detik – detik hembusan nafas terakhir kak Doni menyuruhku untuk memberi surat ini kepada Rias yang sudah kusimpan lebih 5 tahun. Tapi , gimana ini! aku malah menyukai kak Rias?? Apa kakak nggak marah sama aku yah!! Kak maafin aku yah, karena aku malah menyukainya.
Mungkin lebih baik aku harus memberitahu Kak Rias. Aku tak mau kak Rias lebih tahu duluan...
***

Keesokan harinya , saat aku kelur main aku menuju ke kelas 8E dimana Dino berada dan untuk memberitahukannya bahwa aku sudah menemukan kalungku itu. Aku sangat senang sekali , karena aku bisa menemukannya.
“Dinonya mana?”tanyaku pada temannya yang lagi memegang beberapa kertas di depan pintu. Mungkin itu kumpulan kertas akta keluarga teman – teman Rino.
“Dinonya lagi ke kantin kak”ucapnya dan tak sengaja dia menjatuhkan beberapa kertas itu dan akupun membantunya mengambil beberapa kertas di atas lantai .

Saat ku membantunya mengambil itu , aku menemukan akta keluarga Dino maka akupun membacanya karena sudah lama aku penasaran siapa dirinya sebenarnya! Dan tak ku sangka, aku menemukan nama Doni Armanda Armansyah. Dugg... jantungku berdetak tak menentu. Dino ternyata saudara kembar Doni, pantasan saat pertama kali ku melihatnya aku merasa tidak asing dengan dia tetapi kenapa dia tidak memberitahu sebelumnya yah dan saat kejadian itu aku baru sadar bahwa Dino sudah lama memperhatikanku.
“Dino..! kamu saudara kembarnya Doni yah?? Kenapa kamu tidak bilang sama aku sebelumnya?”ucapku terbata – terbata
“iya kak. maaf aku belum mengatakan sebelumnya. Aku tak mau membuat kakak menangis”gumamnya
“apa maksud Dino? Dimana sekarang Doni?”tanyaku
“Donnnii sudah tiada kak.!”katanya dan air mataku berjatuhan terus menerus.
“apa yang kamu katakan? Kamu bohong kan”ucapku tak percaya
“kak itu benar. Doni sudah tiada. Dia meninggal karena penyakit gagar otak sejak lahir.” Sambil memegang pundakku

Aku menitikkan air mata . Rasanya ini bagaikan mimpi buruk bagiku , kenapa ini bisa terjadi. Aku selalu berharap sampai sekarang bahwa dia akan datang tapi itu hanya ilusi semata.
“Kak.! ini surat dari kak Doni untuk kakak. Dia menyuruhku memberikan pada kakak”katanya dan melepaskan tangannya dari pundakku dan memberikan surat itu.

Untuk Rias,
Pelangiku. Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu. Kamu tahu? Dari semua bintang langit hanya kamu satu – satunya bintangku yang paling ku sayang. Aku sangat mencintaimu Rias!kamu adalah pelangi bagiku. Tetapi takdir tetaplah takdir , Allah sudah memanggilku maka aku harus meninggalkanmu. Rias ! maafkan aku, aku yakin kamu bisa dapatkan orang yang lebih baik dari aku
Pelangiku tersayang...! good bye...

Aku rasanya mati hampa , aku tidak apa lagi yang harus ku katakan. Tanganku gemetaran setelah membaca itu. Aku rasa tidak siap dengan ini. Air mataku berjatuhan terus menerus, Doni coba menghiburku tapi itu tidak membuahkan apa – apa, tetap saja ku menangis.
“kak Rias , berhentilah menangis. Nanti kak Dino ikut menangis juga lagi!”ucapnya menghibur tetapi aku tetap saja menangis dan lebih deras lagi.

Aku pun berlari entah kemana dan meninggalkan Doni. Dari belakang ku lihat Doni tidak mengejarku, mungkin dia mengerti bahwa aku perlu berpikir.
1 bulan kemudian akupun mulai bisa melupakannya sedikit demi sedikit karena Dino yang sering menghiburku dan makin lama ada tumbuh rasa suka aku sama Doni. Dan kukira cintakku itu bertepuk sebelah tangan malah ternyata Doni sudah lama menyukaiku.
#SELESAI#

Jalan Cintaku

Jalan Cintaku

Cerita Cinta Romantis 2016 yang bakal bikin kamu meneteskan air mata dan mengharuhkan

Gelak tawa dan kebersamaan ini telah terjadi sejak dulu, sejak kita masih kanak-kanak. Kita adalah sahabat, kita tlah seperti saudara, begitu dekat, dan mengerti satu sama lain. Sebut saja dia dengan nama Rama. Tak ada sedikitpun angan yang terlintas difikiran ku tuk merasakan cintanya, semua tlah berubah saat kita beranjak dewasa, disaat kita tlah mengenal apa itu arti sebuah kebersamaan yang didampingi dengan cinta. Saat dia mengatakan ingin mendampingi aku bukan sebagai sahabat ataupun saudara, sungguh tak pernah ku sangka, bimbang ku rasakan. Tapi, ku tak mau membuatnya terluka atau kecewa, ku putuskan untuk menerima permintaannya itu. Sejak saat itu, ada kebimbangan dalam hatiku, apakah ini semua keputusan yang benar, di satu sisi aku tak mau mengecewakan Rama, tapi di satu sisi dia baru saja mengakhiri hubungannya dengan salah seorang sahabatku sendiri, Reina. Hubungan ku ini, awalnya tak ada yang mengetahui, hanya aku dan Rama. Tapi, seiring berjalannya waktu, semuanya tahu, beegitupun Reina, awalnya aku takut jikalau dia marah dan membenciku. Tapi ternyata dia tak mengapa, dia tak marah ataupun benci kepadaku. Hubungan ku dengan Rama, awalnya baik-baik saja, tapi semenjak kita tak lagi satu sekolah, saat kita memilih sekolah yang berbeda, hubungan ku semakin jauh, dan aku merasa kita tlah jauh. Saat itu ku akui, hatiku tlah berpaling, dan setelah ku mengetahui hatinya juga tlah berpaling kepada yang lain, ku putuskan mengakhiri hubungan ini.
‘’ mungkin ini memang jalan terbaik buat kita berdua, kita memang tak bisa satu, sudah tak ada lagi kecocokan dalam hubungan kita, jadi lebih baik kita berhenti cukup sampai disini”
Sebait pesanku ini diterimanya, dan dia menyetujui keputusan ku ini. Sejak saat itu, aku menjalin hubungan dengan orang lain. Saat ini kumerasa sangat bahagia, orang tua ku memberi restu terhadap hubungan ku dengan orang ini, sebut saja Adrian. Aku serasa tak mau melepas dia, ku selalu berharap hubungan ini tak berakhir sia-sia. Tapi takdir berkata lain, Adrian meninggalkan aku dengan sebuah luka, hatinya berpaling. Tak kusangka begitu pahit ini semua bagiku, tak kusangka dirinya tega khianati ku. Ku terpuruk dalam kepedihan, tak sanggup rasanya ku tuk bangkit dari semua kenyataan pahit ini.
‘’ jika memang kita harus berpisah, aku tlah menemukan seseorang yang lebih mencintaimu dari pada aku “
Pesannya ini, sampai sekarang tak ku mengerti, tak tau siapa yang dia maksud. Selau ku coba melupakan dan menepis bayang-bayangnya dalam hidupku, tapi sungguh begitu sulit ku rasa. Sakit ini semakin terasa, disaat dia tak mau menyapaku, bahkan menyebut nama ku saja sudah tak pernah ia lakukan.

Beberapa bulan berselang, Rama kembali mendekatiku bukan sebagai sahabat.
‘’ aku menyadari bahwa selama ini aku hanya menyayangi dirimu, meski ku tlah lewati hari dengan hati yang lain, tapi tak pernah ku rasakan sayang seperti dirimu’’

Ucapannya tak cukup mampu buatku luluh, dan aku katakan tak ingin menjalin hubungan yang seperti dulu.
‘’kita lebih baik jadi seorang sahabat, kita tak mungkin bisa menjalaini hubungan seperti dulu, aku sayang kamu sebagai sahabat ku “

Tak pernah ku fikirkan akibat perkataanku itu, menyakitinya atau mengecewakannya, aku tak tahu. Yang aku tahu, aku melakukan semua ini demi persahabatan ku dengan dia. Tak pernah dia menyerah tuk meluluhkan hatiku, selalu ia memanjakan dan memberi perhatian penuh terhadapku. Selalu ia berusaha tuk meyakinkanku, bahwa ia kan selau buatku bahagia.
‘’ aku sangat menyayangimu, beriku kesempatan satu kali lagi, tuk menghapus kesalahan ku dimasa lalu, aku berjanji tak kan khianatimu, tak kan ku buatmu sakit, percayalah padaku bahwa kasih dan sayangku buat kamu itu tulus’’

Kata-katanya itu, kian lama buat ku luluh terhadapnya. Hingga pada akhirnya ku putuskan kembali tuk mencoba menjalin hubungan spesial dengan Rama.
‘’ ku coba mempercayaimu lagi, ku beri kau kesempatan dan ku percaya semua kata-katamu, aku mohon jangan sakiti dan khianati diriku ini’’
Tanggal 17 januari 2012, kita menjalin hubungan kembali. Hari-hariku dipenuhi dengan perhatian dan kasih sayangmu, pujian-pujian mu terhadapku jadi menu keseharianku. Tapi, masih ada kebimbangan dalam hatiku, aku masih bertanya-tanya, sebenarnya apakah aku sayang sama dia?? Tiap dia bilang sayang kepadaku, ku selalu bilang ‘’ aku juga sayang kamu ‘’, aku tak tahu salahkah ucapanku itu, yang aku tahu, aku akan membuatnya bahagia jika aku mengatakan bahwa aku juga menyayanginya.

Sikapnya memang tak seperti dulu lagi, sudah lebih dewasa, tapi masih saja ada sikap yang membuatku jengkel. Ingin selalu ku tegur tapi aku tak mau pertengkaran terjadi diantara kita, aku Cuma ingin menjalin hubungan yang lebih lama dengannya. Walaupun ku coba hindari pertengkaran, masih saja ada yang membuatku marah dan ngambek kepadanya, dia selalu mencoba menenangkanku dan membuatku tersenyum lagi. Kian lama ku jalani hari bersamanya,kian ku rasakan kebahagian, rasa sayang itu tumbuh dengan seiring berjalannya waktu dan kebersamaan kita selama ini.

Ditengah kebahagiaan kita, ada masalah yang terjadi, hubunganku ini tanpa diiringi restu kedua orang tuaku. Sakit saat ku dengar ucapan mereka, bahwa hubungan ku ini harus segera berakhir. Ku coba bicara hal ini pada Rama, tapi aku nggak berani. Aku takut menyakitinya, aku takut membuat dia terluka, aku nggak tega ngomong sama dia. Sekarang ku di hampiri kebimbangan, apa yang harus aku lakukan, menuruti kata orang tua, apakah memperhatakan hubungan ini. Sungguh, jadi kayak sinetron, hubungan nggak direstui gara-gara masalah yang sepele dan nggak jelas. Sumprit deh pusing mikirin masalah ini, mau dibawa kemana hubungan ini.

Suatu hari, aku bertemu dengan dia di rumah temenku, sebut saja namanya Putra, karena kebetulan banget pacarnya Putra adalah temen dekatku sendiri, panggil aja Isna. Jadi, ceritanya double date gitu deh. Seru juga double date kayak gini, saat itu aku sama Rama duduk berdua, dia nyuruh aku menutup kedua mataku, aku sempat nggak mau, tapi dia maksa. Ya, okelah aku turutin. Dan tak lama kemudian aku rasakan ada sesuatu di leherku, ku buka mataku dan ternyata dia telah memasangkan kalung di leherku. Dia tersenyum padaku dan bilang ‘’ aku sayang kamu’’. Ku balas senyum manisnya dan ku balas pula ucapannya itu ‘’ aku juga sayang kamu ‘’.

Tak lama kemudian aku berdiri, aku mengatakan sesuatu kepadanya,
‘’ bagaimana nanti seandainya kita tak lagi bersama ya?”

Dia terkejut dengan pertanyaanku itu, serentak ia berdiri dan kembali bertaya kepadaku.
‘’ apa maksud kamu, apa yang kamu katakan?’’

Aku diam sejenak dan menunduk sambil ku pegangi kalung dari dia.
‘’ seandainya hubungan kita nanti berakhir bagaimana?’’
‘’ berakhir? Kenapa kamu berfikir seperi itu?’’
‘’ kamu tahukan, orang tuaku bagaimana, mereka tak merestui kita !’’

Rama terdiam, ia duduk kembali dan menunduk. Sungguh, sedih bangit hati ini ngeliat dia kayak gitu. Dia kemudian mengajukan pertanyaan kepadaku.
‘’ apa kamu akan mengakhiri hubungan kita ini?’’
‘’ aku nggak tahu?” jawabku dengan lemas
‘’ aku ikhlas, jika memang kamu akan memutuskan hubungan ini, tapi sungguh ku tak kan sanggup kehilangan kamu ‘’

Rama menatapku, dengan mata yang berkaca-kaca. Oh, tuhan sungguh semakin tak tega aku, rasanya tubuh ini makin lemas bahkan mau pingsan.
‘’aku, aku nggak tahu, aku nggak tahu harus bagaimana’’
‘’ aku sangat menyayangimu, aku nggak bisa kehilangan kamu’’
‘’ aku juga sayang kamu ‘’

Dia berdiri dan memeluk erat tubuhku, ini untuk pertama kalinya aku dipeluk sama pacar. Dan tak ku sangka air mata ini menetes begitu deras.
‘’ aku sungguh nggak mau kehilangan kamu , aku menyayangimu’’

Berulang-ulang kali Rama mengucapkan kata-kata itu.
‘’ aku juga sayang kamu, aku nggak mau putus dari kamu’’

Setelah ku ucapkan kalimat itu, air mata ini semakin tak mau berhenti.
‘’ aku nggak mau putus, nggak mau’’
‘’ jangan nangis ya, aku nggak mau liat kamu nangis kayak gini’’
‘’ tapi, aku nggak mau putus, aku sayang kamu’’
‘’ kita nggak akan putus, nggak akan pernah. Percaya lah padaku, pasti suatu hari nanti, kita akan mendapatkan restu’’
‘’ apa kamu yakin?’’
‘’ aku yakin, sudah ya nggak usah nangis lagi, aku nggak tega ngliat kamu nangis kayak gini’’

Rama mengusap air mataku dengan begitu lembut, kedua tangannya memegang pipiku.
‘’ aku menyayangimu, yakinlah bahwa hubungan kita akan baik-baik saja’’

Dipeluknya kembali tubuhku yang lemah ini, ku ucapkan berulang-ulang kali.
‘’aku sayang kamu, aku nggak mau putus ‘’
Semakin kurasa nyaman dalam pelukannya, terasa sejenak beban ini hilang. Rasanya aku tak ingin lepas dari pelukan hangatnya. Tapi waktu juga yang akhirnya melepaskan. Aku sempat berfikir hari ini semuanya akan berakhir begitu saja, tapi ternyata salah , cerita ini masih terus berjalan dan belum berakhir.
Sejak saat itu, cerita ini semakin indah, banyak moment-moment yang berkesan. Dia selalu menemani tawaku, dia mengusap air mataku ketika ku menangis, dia selalu di sampingku saat ku bersedih. Rasanya sayang ini semakin kuat.
Suatu hari saat meeting class, Isna tidur dirumahku, dan kami membuat rencana untuk berangkat kesekolah esok hari, aku akan berangkat dengan Rama, dan dia akan berangkat dengan Putra dan kami berencana berangkat agak siang dari pada biasanya.
Keesokan harinya, rasanya begitu semangat untuk memulai hari ini, setelah selesai sarapan aku dan Isna berangkat, kami janjian bertemu Rama dan Putra di jembatan. Saat sampai di jembatan baru Rama yang disana, Putra belum nongol ternyata. Rama mengajakku berangkat lebih dulu karena ia takut telat, tapi Isna nggak mau ditinggal sendirian. Setelah beberapa saat akhirnya Putra nongol juga, kamipun berangakat tapi kami tak melewati jalan yang sama. Kami memang berbeda-beda sekaolah, Cuma aku dan Isna yang satu sekolah, aku dan Isna nantinya akan bertemu di depan gerbang sekolah.

Sepanjang jalan, aku dan Rama bersenda gurau, jikalau bisa tiap hari kayak gini, anganku melayang tinggi. Dia berkata padaku
‘’ aku ingin tiap hari bisa berangkat ke sekolah dengan kamu, menjemputmu di rumah dan disekolah, pengen banget “
‘’aku juga pengen kayak gitu, kayak anak-anak yang lain, bisa berangkat dan pulang bareng,tapi apalah daya itu mustahil terjadi’’

Kami terdiam sejenak, seakan menghentikan angan yang sempat melayang. Saat sampai di depan sekolahku, ku tengok kanan dan kiri mencari Isna, dan ternyata ia belum datang.
‘’ cepat sana masuk, nanti telat’’
‘’ aku nunggu Isna ‘’
‘’ tunggu di dalam aja, cepat masuk’’
‘’ nggak lah, aku mau nunggu di sini aja’’
‘’ ya uda terserah kamu aja, aku ke sekolahku dulu ya, hati-hati kamu di sini’’
‘’ iya, kamu juga hati-hati ya’’

Aku duduk di depan gerbang sendirian, lalu ada temankku yang baru datang, dan aku mengajaknya nungguin Isna, aku telfon tak diangkat olehnya, aku sms tapi tak di balas. Sampai akhirnya gerbangpun ditutup, dan ada salah seorang temanku yang baru datang.
‘’ ngapain kalian berdua disini?’’ tanyanya kepadaku dan temanku
‘’ nunggu Isna, dia belum datang”
‘’lhoh, gerbangnya kok ditutup’’ katanya dengan kaget
‘’ ya uda, disini dulu nunggu Isna ‘’
Aku dan kedua temanku menunggu Isna, cukup lama kami menunggu dan akhirnya dia datang juga. Dia datang dengan senyum yang lebar tanpa merasa bersalah karena tela membuat kami menunggu. Saat kami akan masuk, pak satpam menghalangi kami, beliau tak mau membukakan pintu gerbang. Beliau menyuruh kami menunggu anak-anak yang lain, mungkin ada yang telat lagi. Dan ternyata benar, ada lebih banyak lagi yang telat. Setelah itu, kami harus berbaris dengan rapi, dan kamipun dimarahin oleh pak satpam, bahkan kami di video dan wajah kami di potret sama ketua osis. Wow, kayak teroris aja fikirku, setelah kenyang dengan omelannya pak satpam dan ketua osis, kami harus berlari keliling lapangan, padahal lagi ada pertandingan futsal. Sumpah, malu banget deh, diketawain dan dilihat sama anak satu sekolahan, rasanya pengen ku tutup mukaku pakai kantung kresek.
Tapi, aku akuin deh nggak nyesel hari ini telat dan nggak apa-apalah harus dapat omelan yang penting bisa bareng sama mas pacar. Heheehehe

Habis itu, aku dan Isna malah ketawa-ketawa sendiri, habis gokil banget deh kejadian ini, mungkin akan selalu teringat dan nggak terlupakan. Saat pulang sekolah Putra sudah sampai terlebih dulu menjemput Isna, dan kami menunggu Rama, sampai akhirnya Rama datang menjemputku. Kami pulang bareng lagi dan kali ini kami pulang melewati jalan yang sama. Rasanya hari ini nggak mau cepat-cepat berlalu, kapan lagi coba bisa kayak gini. Ada yang lucu sih dari hubungan aku dan Rama, lalu Isna dan Putra. Jika salah satu dari kami ada yang bertengkar pasti yang satunya juga bertengkar. Dan kalau lagi seneng dan bahagia-bahagianya, pasti yang satu juga lagi bahagia. Kalau lagi berantem sama pacar,malah aku dan Isna yang cuek-cuekan, diem-dieman,. Tapi kalau lagi baikan dan nggak ada masalah sama pacar, kita pasti ngobrol terus, becanda terus. Kalau di fikir-fikir emang lucu sih, sedih bareng seneng bareng.
Keanehan mulai aku rasakan saat bulan puasa, aku merasa sikap Rama berubah, aku merasa dia uda nggak perhatian lagi sama aku. Tapi, aku coba untuk hilangkan perasaan ini. Sebenarnya memang bulan puasa ini menyenangkan, aku dan Rama tak jarang sholat terawih bareng dan sholat shubuh di mushola bareng.

Suatu malam selepas sholat tarawih, Rama mendatangi aku di rumah, kebetulan saat itu kedua orang tuaku masih dimushola. Aku kurang mengerti tujuan dia rumahku itu apa, lalu Rama berkata padaku “ aku sungguh menyayangimu ‘’. Aku tersenyum mendengar ucapannya itu, belum sempat aku balas ucapannya itu, tiba-tiba ia memegang tanganku dan memasangkan sebuah cincin di jari manisku.
“ aku sungguh sayang kamu, jangan tinggalkan aku, dan ku mohon jaga cincin ini baik-baik “ ucap Rama dengan tatapan mata yang sendu
‘’ aku juga sayang kamu, kan ku jaga cincin ini seperti ku menjaga cinta ini “
Ia memeluk tubuhku, sungguh ku rasa begitu nyaman dan ku merasa bahwa ia benar-benar menyayangi aku. Selepas itu, ia segera pulang. Ku pandangi cincin itu, dan aku berfikir, apakah tak kan ada nantinya yang memisahkan aku dan dia?? Yah, semoga saja. Aku hanya menginginkan yang terbaik buat hubunganku dengan Rama ini.

Beberapa hari setelah itu dan pada saat makan sahur, tak ku sangka kalung yag diberikan oleh Rama putus, dan ku merasa perasaan ku tak menentu, ada kekhawatiran, ada ketakutan, ku bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi?? Lalu, ku coba mengatakan kepada Rama bahwa kalung pemberiannya itu putus.
‘’ kenapa, kalung itu bisa putus?’’ tanya Rama
‘’ aku tak tau, tiba-tiba putus begitu saja”
‘’ kamu sih nggak jaga baik-baik “
‘’ aku sudah jaga baik-baik kok ‘’
‘’ ya sudahlah, besok-besok aku belikan lagi “
Untung saja Rama tak marah padaku, tapi jika diingat-ingat barang-barangku dari Rama tak pernah ada yang tetap utuh atau bagus sampai sekarang ini. Mulai dari boneka yang ia berikan saat rekreasi waktu SMP dulu uda ada bagian yang sobek, gelang juga putus, lalu bingkai fotonya pecah , dan kalungpun putus. Aneh memang dan sempat terfikir dibenakku, apakah ini pertanda bahwa hubunganku dengan dia tak kan bertahan lama dan kami ditakdirkan tidak untuk bersama. Tapi, selalu ku coba singkirkan jauh-jauh fikiran buruk itu.

Malam itu, semakin ku rasakan ada yang aneh dari dia, lalu ku beranikan diri untuk menegurnya,
‘’ aku merasakan ada yang aneh dengan kamu akhir-akhir ini “
‘’ aneh bagaimana?”
‘’aku merasa perhatianmu berkurang, tak seperti dulu “
‘’ perhatianku terhadapmu tak pernah berkurang, mungkin hanya perasaanmu saja “
‘’ ini bukan sekedar perasaan semata, kamu benar-benar berubah, tak seperti dulu “
‘’ mungkin karenaku terlalu banyak tugas “
Dan akhirnya semua perkataanku itu menimbulkan pertengkaran di antara kami, aku marah padanya, dan mungkin ia juga marah padaku.
Keesokan harinya, aku tak memberi kabar padanya dan aku sangat berharap ia mengirimi aku pesan atau menelfonku seperti biasa. Tapi, dari pagi hingga malam tak satupun pesan ku terima darinya, semakin jengkel ku rasa, dan kemarahanku semakin besar padanya.

Hari berikutnya, tetap ku coba tuk tak menghubungi dia, aku ingin tau apakah dia akan menghubungi aku. Tapi, hingga siang hari, tak juga ia menghubungi aku, aku rasanya sudah tak tahan menahan emosiku. Lalu ku kirimi dia pesan
‘’ kok dari kemarin nggak ada kabar, lupa ya kalau punya pacar, atau uda nganggep kalau uda nggak punya pacar ?’’
‘’ ngomong apa’an sih, siapa yang lupa kalau uda punya pucar dan siapa juga yang uda nganggep kalau nggak punya pacar “
‘’ lha trus apa dong namanya, kalau dari kemarin seharian nggak hubungin aku dan sekarang ini aku kalau nggak ngirim pesan, pasti kamu juga nggak akan ngirimi aku pesan kan??”
‘’ aku Cuma sakit hati aja, karena kamu menganggap kalau aku uda nggak perhatian sama kamu “
‘’emang kenyataannya kayak gitu kok “

Dan pertengkaran kami malam itu pun berlanjut, dan karena aku sudah jengkel aku tak membalas pesan darinya. Lalu, entah kenapa rasanya saat itu aku ingin sekali membuka jejaring sosial (fb). Saat itu ku terima pesan, dan anehnya yang ngirim aku pesan adalah Rama, tpi, yang lebih anehnya di pesan itu ia bertanya
‘’ ini pacarnya Rama?”
‘’iya”
‘’ma’af, aku bukan Rama, kamu masih pacaran sama dia?’’
‘’iya, aku masih pacaran sama dia, ini siapa?’’
‘’beneran kamu masih pacaran sama dia?
‘’ beneran lah, kamu siapa sih sebenarnya kok pake fbnya Rama?’’
‘’tapi dia bilang ke aku kalau kalian uda putus !!’’
‘’uda, uda, hubungin aku di nomer ini ************ ‘’

Lalu aku kasih nomer hp aku ke dia, dan kemudian ada pesan dari anak itu.
‘’kak, beneran ya kamu masih pacaran sama Rama?’’
‘’beneran lah, walaupun sekarang aku lagi berantem sama dia, kami nggak putus kok dan nggak ada kata-kata putus tuh !!”
‘’ tapi, dia bilang ke aku kalau kalian uda putus !!’’
‘’ kapan dia bilang kayak gitu, dan kamu itu siapa?’’
‘’beberapa hari yang lalu, aku adik kelasnya kak!!’’
‘’nama kamu siapa, dan kenapa sebenarnya kamu nanya kayak gitu sama aku?’’
‘’ aku Febri, aku Cuma mau pastiin aja yang sebenarnya itu bagaimana “
‘’ sumpah ya, aku nggak ngerti maksud kamu itu apa’’
‘’ Rama uda bilang cinta ke aku, dan dia nembak aku kak!!’’

Membaca pesan itu rasanya aku ingin marah, nangis, perasaan ku nggak karu-karuan, tapi aku masih mencoba untuk tetap tenang.
‘’apa,? nggak mungkin “
‘’ beneran kak, ma’afin aku kalau memang aku merusak hubunganmu dengan Rama “
‘’ kalian uda pacaran?’’
‘’ aku bingung, dia tetap mau jadi pacar aku, aku uda coba nolak dan dia tetap ngotot mau jadi pacar aku kak !!
‘’ aku tanya, kalian uda pacaran apa belum? Nggak usah muter-muter kalau jawab !!’’
‘’ uda kak, tapi baru beberapa hari saja kok, kalau gitu aku akan mutusin dia kak !!’’

Beberapa saat kemudian
‘’ dia nggak mau putus dari aku kak “
‘’oh, gitu ya..!!’’
‘’ ma’afkan aku kak, aku nggak punya maksud ngrusak hubungan kalian !!’’
Dan febri mengirimkan sebuah pesan dari Rama ke aku yang isinya disitu Rama nggak mau putus dari Febri.

Lalu, aku mengirim pesan ke Rama, aku coba tetap tenangkan diri aku.
‘’oh ya,aku lupa nanya sama kamu. Kita putus kan?’’
‘’ terserah “
‘’ oke, kita resmi putus, akhirnya aku bisa bebas juga “
‘’ ini kan yang kamu mau, putus dari aku dan kamu bisa dengan cowo’ lain?’’
‘’kalau iya, emang kenapa, masalah buat kamu? Kamu aja bisa dengan cewe’ lain sebelum kita putus, masa’ aku nggak bisa dengan cowo’ lain, padahal kita uda resmi putus !!
‘’ terserah apa kata kamu aja “
‘’iya, satu pesenku buat kamu, urusin tuh selingkuhan kamu “
Dalam pesan itu, aku berlaga tenang dan santai menghadapi masalah ini, tapi sebenarnya hatiku ini hancur banget dengan semua kejadian ini, sakit banget rasanya, pengen nangis, pengen teriiak, pengen marah, tapi rasanya aku nggak tau bagaimana ngungkapin semua perasaan yang ada di hatiku ini. Tanggal 13 agustus 2012, aku dan Rama resmi putus dan hubungan sudah benar-benar berakhir, gara-gara perselingkuhannya dengan Febri, 7 bulan kurang 4 hari hubungan ini berjalan dengan sia-sia, sad ending.

Lalu, aku megirim pesan lagi kepada Febri.
‘’ aku uda putus sama Rama “
‘’ kok putus, ma’afin aku gara-gara aku kalian putus,”
‘’uda lah, nggak apa-apa “
‘’ kalian nggak usah putus ya, biar aku saja yang putus sama Rama, kalian uda saling mengenal lebih dulu,”
‘’ aku uda terlanjur putus sama Rama, dan mungkin emang uda takdirnya aku putus sama dia !!’’
‘’ ma’afkan aku ya !!’’
‘’ya, moga kalian langgeng!!”
‘’ amin kak, makasih do’anya, dan sekali lagi ma’afin aku “
Sumpah, aku nggak nyangka banget tuh anak bakalan bilang “amin” saat aku bilang “ semoga kalian langgeng”, muna banget tuh anak, awalnya bilang mau putus sama Rama, tpi akhirnya malah bilang amin. Rasanya pengen aku mencaci maki mereka semua, pengen aku pukulin sampe babak belur.
Sempat aku mengajak Febri bertemu dan ngomongin masalah ini baik-baik, tapi ia menghindar dan menolak, aku kurang tau alasan dia yang sebenarnya menghindar dari aku itu apa, dia Cuma bilang kalau dia lagi sibuk, tapi menurutku ia takut bertemu denganku, mungkin ia takut aku bakalan marahin dia, padahal ngga ada maksud ku buat marah atau maki-maki tuh anak, aku kan Cuma pengen tau lebih jelas dan ngomong secara tatap muka langsung kan lebih enak dari pada Cuma lewat handphone.

Keesokan harinya aku mengirim pesan ke Febri.
‘’ tolong jaga Rama, seperti aku menjaganya. Tolong sayangi dan cintai dia, seperti aku menyayangi dan mencintai dia, aku titip dia ke kamu, aku percayakan dia untuk kamu. Jangan buat dia terluka. Semoga kalian bahagia selalu “

Penuh dengan linangan air mata saat ku tulis dan ku kirim pesan tersebut, ada perasaan tak rela untuk melepas begitu saja semua yang telah terjadi selama ini. Tapi apalah daya, ini semua sebuah kenyataan yang harus aku hadapi, air mata ini semakin deras mengalir saat ku kumpulkan semua barang pemberianmnya. Firasatku ternyata benar, bahwa hubungan ini kan berakhir, dengan semua pertanda yang ada selama ini.
“ Ya Allah, sakit banget yang aku rasakan sekarang ini, sakit hati ini kembali lagi berpijak dalam diriku, dia yang telah ku percaya, dia yang telah beriku senyum, dia yang telah beriku mimpi, dia yang temani tawaku, dia yang hilangkan dukaku. Tapi, kini ia telah pergi tinggalkan aku untuk cinta yang baru, cinta yang baru saja ia kenal. Kenapa harus terjadi lagi, apa salahku, apa kurangku hingga dia sakiti aku seperti ini. Ya Allah, tak sanggup rasanya aku mengingat semua kenangan antara aku dan dia, itu terlalu menyakitkan. Ya Allah, jauhkan aku dari rasa benci, jauhkan aku dari dendam, berikan hambamu ini keikhlasan dan ketabahan dalam menerima serta menghadapi semua ini. Ku serahkan semua ini padamu ya allah, ku tahu ini semua rencanamu, ku tahu ini semua kehendakmu, engkau yang telah menyatukan kami, dan engkau pula yang pisahkan kami ya allah”
Sebait curahan hatiku itu ku panjatkan kepada Allah dengan semua sakit yang ku rasakan, dengan semua air mata yang mengalir. Tapi aku coba tersenyum, aku masih mencoba untuk tegar, karena ku percaya dan aku pasti bisa hadapi semua ini.

Beberapa saat kemudian, ku dengar handphone ku berdering, dan ku lihat ada satu pesan. Saat ku buka ternyata itu pesan dari Rama.
‘’ andaikan aku bisa memutar waktu kembali, pasti akan ku lakukan. Tapi itu sungguh mustahil, tak mungkin aku bisa memutar kembali waktu meski hanya satu detik saja. Karena kesalahanku itu, kau pergi tinggalkan aku. Kini kita tlah berjalan sendiri-sendiri, semoga kita bisa menjalani semua ini dengan baik.”
Sedikit senyum yang hanya bisa kuberikan setelah membaca pesan itu, aku mencoba tabah dan tetap tegar, aku tersenyum untuk menahan sakit yang ku rasakan.

Hari-hari ku kini memang sepi setelah ia tak ada lagi dalam kehidupanku ini, aku coba move on, move on dan move on. Ku coba cari kesenanganku tanpa dia, ku coba cari tawaku saat tak ada dia. Kini entah apa yang akan terjadi selanjutnya dengan perjalanan cinta ini, apakah suatu saat aku bisa benar-benar mema’afkan dia dan menghilangkan sakit ini karena dia. Dan mungkin kelak ku bisa temukan yang lebih dari dia, tak aku mengerti, karena semua itu menjadi rahasia Tuhan dan ku coba siap menerima semua yang telah di gariskan oehnya, karena jodoh, rezeki dan matiku hanya Allah yang tahu.

Yakinlah

Yakinlah

Cerita Cinta Remaja 2016 yang bakal bikin kamu menangis dan mengharuhkan pastinya


Aku mahasiswi disebuah universitas yang cukup terkenal di Yogyakarta. Aku memang anak desa yang kebetulan terpilih mendapat beasiswa kuliah di universitas impianku. Aku termasuk diantara orang-orang pintar tersebut. Tapi aku hanyalah beruntung. Itu saja. Dengan alasan yang demikian itulah, aku tak berani berharap banyak terhadap apapun disini. Aku merasa tak pantas.

Di kelas, aku hanya bisa diam. Mengagumi argumentasi teman-teman kelasku yang pengetahuannya diatas rata-rata. Tidak sepertiku yang hanya mengerti sedikit tentang apa yang mereka bahas. Hanya anggukan-anggukan kecil yang selalu kulakukan untuk mengekspresikan bahwa aku mengerti. Serta hanya kerutan kening yang selalu kutunjukkan saat aku tak mengerti. Suasana kelas yang baru ini membuatku semakin terbungkam. Karena aku memang tidak biasa sekelas dengan yang namanya laki-laki. Sehingga sejak berada dikampus ini, ada rasa canggung yang selalu menghalangiku.
Yakinlah
Entah berapa orang temanku sekelas. Yang aku tahu, lumayan banyak. Dan rata-rata mereka tahu bagaimana cara menggunakan internet atau alat teknologi lainnya yang sangat modern. Beda dengan aku yang serba buta terhadap teknologi. Aku mahasiswi yang paling ketinggalan jaman di kelasku. Bahkan di kampus. Tapi itu tak menyurutkan semangatku. Aku masih ingat bahwa setiap usaha pasti dihargai oleh Allah. Artinya, jika aku bersungguh-sungguh mau belajar, aku akan sama seperti mereka.

Pertama kali presentasi di kelas, aku mempresentasikan tugas bahasa inggrisku. Dengan bahasa inggris yang hanya pas-pasan, aku memberanikan diri memaparkan isi dari tugasku tersebut. Dan, Alhamdulillah aku puas dengan hasilku sendiri. Meskipun banyak sekali kekurangan, bahkan aku sadari memang baru kali ini aku presentasi dengan bahasa inggris. Sedangkan presentasi yang kedua aku lakukan tanpa niat. Sebab niatku hanya untuk menghargai karyaku yang dengan sulit kubuat. Dan hasilnya, aku presentasi layaknya orang bodoh. Bahasaku ternyata tidak mampu membuat teman-temanku paham dengan apa yang aku maksudkan sebenarnya sehingga terjadi salah paham. Dan sejak saat itulah aku merasa tak dihargai. Aku merasa down dan tak mau lagi berbicara dalam ruang kelas.

Sejak saat itu aku menjadi pendiam. Aku berharap kelak, masih ada orang yang mau menghargai bahasaku yang sulit dimengerti orang lain. Entah karena tidak sisitematis, atau mereka yang memang salah paham menangkap arah pembicaraanku. Aku lebih sering diam dengan sifat khasku. Cuek dan dingin. Aku berpikir bahwa tak ada gunanya bersosialisasi dengan mereka yang tak bisa menghargai orang lain.

Ada satu hal yang membuatku takut untuk masuk kelas. Sejak pertama kali masuk, aku mengagumi seseorang di kelasku. Padahal, jangankan menyukai. Kenalpun sebenarnya aku tidak pantas. Sebab keterbatasan dan asalku. Tapi sungguh, aku tak pernah mengharapkan perasaan itu muncul apalagi sampai mengakar. Tapi semua itu datang secara tiba-tiba. Membuatku tergugu dan tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali diam dan menahan perasaan itu agar tak subur. Menghindarinyapun tak ada cara. Sebab aku dan dia sekelas. Selain itu, ada lagi satu hal yang membuatku tidak pantas menyuburkan perasaan itu. Karena orang tuaku. Budaya desa yang masih melekat hingga sekarang membuatku harus membuang hak menyayangi orang lain. Karena cinta telah ditentukan oleh orang tua. Ya, aku sudah punya tunangan. Tepatnya sejak 5 tahun yang lalu. Lagi pula, tak ada yang bisa aku andalkan buat menarik hatinya. Sebab aku hanya punya wajah pas-pasan. Otak yang juga pas-pasan.

Dia adalah seorang lelaki pendiam. Setiap dia bicara, seperti selalu ada senyum yang mengimbangi pembicaraannya. Selama aku melihatnya, tak pernah sekalipun kulihat dia marah. Ada lagi yang menarik darinya. Meskipun dia gugup saat presentasi di depan, tapi wajahnya selalu menampakkan ketenangan. Dia memang jarang bergaul. Tapi aku yakin, dia adalah orang yang setia kawan. Dia memang jarang bicara. Apalagi berpendapat. Tapi aku tahu dia sangat cerdas. Aku pun menemukan kebijakan disetiap kata-katanya yang sedikit. Ada banyak kelebihan dan keindahan yang aku lihat darinya. Tapi, biarlah semua hanya menjadi wacana dalam hatiku. Biarkan semua berjalan dengan semestinya. Tanpa ada yang tahu. 
Aku selalu merindukannya saat kuliah libur. Ada satu keinginan yang selalu ingin terkabulkan meskipun keinginan itu berada pada tempat yang salah di hatiku. Yakni, aku ingin selalu melihatnya. Ya, Cuma melihat. Tanpa mau tahu isi hatinya. Sebab itu akan membuatku sakit. Artinya, kalau dia juga menyimpan rasa yang sama denganku, maka bukan hanya aku yang akan sakit. Diapun demikian. Karena bagaimanapun, kita takkan bisa bersatu. Dan jika dia tidak memiliki rasa yang sama denganku. Aku yang akan kecewa. Sebab rasaku tak terbalas. Maka dari itu, aku tak ingin tahu perasaannya. Tapi aku meyakini satu hal. Bahwa aku ada dibagian hatinya yang lembut. Itu yang membuatku bertahan hingga saat ini.

Aku memang telah memfonis teman-temanku tak bisa menghargai orang lain. Namun bagaimanapun, aku tetap membutuhkan mereka disetiap perjalanan hidupku. Aku sayang teman-temanku. Hanya saja aku tak mau terlalu banyak bicara dengan mereka. Karena aku tetap saja merasa beda. Hingga suatu hari, aku merasakan bahwa mereka menganggapku benar-benar ada diantara mereka. Aku merasa menjadi bagian dari hidup mereka.

Hari itu, 10 Oktober 2013. Aku telat masuk jam kuliah pertama hari itu. Karena tak ada satupun temanku yang memberi kabar lewat sms bahwa jam kuliah pertama dimajukan. Di kelas, aku merasa sangat terasing. Sebab aku seakan tak dianggap ada oleh mereka. Bagaimana tidak, aku yang sudah jelas-jelas ada diantara mereka, tak sekalipun disapa. Tak ada yang mengajakku bicara. Padahal hari-hari yang lalu, mereka masih biasa saja padaku. Sikap mereka yang meskipun dingin, tetap masih terasa hangat saat mereka menyapaku. Tapi kali ini benar-benar beda. Aku semakin tergugu dengan keadaan ini. Sakit sekali rasanya terasing. Seakan hari ini tak ada kata yang patut dilontarkan dunia untukku. Meski hanya sekedar “hai”. 
Apa aku terlalu hina untuk dijadikan teman? Apa aku sudah terlanjur bodoh sehingga tak ada kata sapaan seikitpun? Aku mengajak mereka berbicarapun tak mereka hiraukan. Ada apa dengan hari ini? Mungkinkah hari ini adalah hari kematianku? Atau aku sudah mati sehingga mereka tidak lagi bisa melihatku? Tidak. Kerena setiap kali aku bertemu teman-temanku dari fakultas lain, mereka tetap saja menyapaku. Lalu, apa aku telah berbuat salah pada teman-teman kelasku? Seluruh kemungkinan-kemungkinan muncul dibenakku. Membuatku semakin takut untuk melangkah lebih jauh lagi. Aku hanya melamun sejak jam pertama usai di depan perpustakaan. Tak ada lagi semangat membaca, tak ada lagi semangat belajar. Bahkan untuk sekedar makanpun tak ada keinginan. Hingga tanpa terasa, air mataku mengalir. Mengisyaratkan kepedihan orang yang tengah terasing dari komunitasnya. Sakit sekali rasanya. Tapi sayang, tak ada yang mengerti.
“tut-tut-tut..”

Aku terkejut dengan bunyi hpku yang ada disaku bajuku. Ada satu pesan masuk. Dari Dien. Teman kelasku. Kubuka pesan itu dengan tergesa. Berharap mimpi yang sejak tadi kuratapi segera berakhir. Dan ternyata benar. Dia memberiku kabar bahwa jam kedua akan segera dimulai. Aku merasa sangat bahagia. Karena bagaimanapun, masih ada satu orang yang masih mengingatku. Dari saking bahagianya, hingga aku lupa bahwa jam pertama baru saja selesai 15 menit yang lalu. Aku segera menuju ruang yang disebutkan Dien tadi. Pintu ditutup. Tapi aku tak takut untuk kembali telat masuk kelas. Karena kebahagiaanku melebihi apapun. 
Tapi tiba-tiba, saat kubuka pintu kelas dan kutongolkan kepalaku ke dalam, ternyata tak ada siapa-siapa disitu. Sakit itu kembali memenuhi relung hatiku. Aku dikibuli. Teganya. Tapi aku tak berhenti sampai disitu. Aku berpikir, mungkin Dien salah menyebutkan nomor ruangan seperti biasa. Kubalas sms terakhirnya dan mengatakan bahwa ruangan yang ia sebut tadi kosong. Dan ternyata dugaanku benar. Dien salah menyebutkan nomor ruangan. Sakit itu pelan-pelan hilang. Aku segera menuju ruangan yang disebutkan Dien. Sama. Pintunya tertutup. Tapi aku yakin ini ruang yang benar. Meskipun terdengar sepi sekali di dalam. Perlahan, kutarik pintu agar terbuka. Dan saat itu, betapa terkejutnya aku ketika ada barang halus yang mengenai wajahku. Mataku kelilipan tak bisa dibuka. Tapi aku mendengar orang-orang bersorak dan menyanyikan lagu ulang tahun. Saat itulah aku sadar. Bahwa ternyata semua yang terjadi padaku hanyalah sandiwara mereka. Akupun baru ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 18. Aku bahagia sekali. Hingga tanpa sadar, aku menangis haru. Setelah mataku pulih, aku menumpahkan segalanya dipelukan teman-temanku. Tak bisa kutulis rasanya bagaimana bahagiaku saat itu.
“Kenapa menangis, Zie?”
“Kalian tahu, tadinya aku berpikir bahwa aku telah kehilangan kalian semua…”
“Jangan berpikir begitu. Kita semua senasib dan seperjuangan. Tak mungkin kita meninggalkan salah satu teman kita. Kecuali dia sendiri yang meninggalkan kita”
Aku semakn terharu. Kupeluk lagi mereka semua. Aku benar-benar merasa dihargai oleh mereka. Aku merasa menjadi bagian dari mereka. Dan aku merasa bahwa mereka adalah keluarga keduaku.

Disela alir air mataku yang tak henti mengalir, mataku menangkap sosok yang selalu kurindukan. Dia sedang duduk santai. Tadinya mata kami bertemu. Tapi dia mengalihkan pandangannya dengan cepat. Aku suka tingkahnya yang seperti itu. Spontan aku tersenyum. Tapi segera kutepis senyum itu. Aku takut ada yang melihat. Dan semuanya terbongkar.
Aku segera mencuci mukaku ke kamar mandi. Saat aku sedang mengeringkan mukaku, tiba-tiba satu pesan masuk. Segera kerongoh hp disaku bajuku. Dari Kafi. Orang yang aku kagumi.
“Selamat ulang tahun, Zie…”

Aku tersenyum membaca smsnya. Kebahagiaanku sempurna hari ini. Dan aku melupakan segala perbedaan antara aku dan teman-temanku. Akupun lupa untuk menahan perasaanku pada Kafi. Hingga tanpa sadar, perasaanku memuncak sejak hari itu.
“Terima kasih Ka”
Jawabku singkat. Seperti biasa. Karena aku yakin dia tak lagi akan membalas smsku. Tapi tiba-tiba, hpku kembali berdering.
“bisakah kau temui aku di samping kelas sekarang?”
Aku terkejut membaca pesan Kafi. Tidak biasanya. Tapi diantara keterkejutan itu, aku merasa sangat bahagia. Segera aku bergegas menuju samping kelas. Sembari mengiriminya pesan balasan.
“baiklah…”

Aku melihatnya duduk dengan ekspresi khasnya. Santai. Kudekati dia dengan dada yang tak karuan.
“ada apa, Ka?”
Tanyaku setelah berada disampingnya. Dia mengangkat mukanya dengan senyum. Namun kulihat tangannya menggigil. Mungkin dia sedikit gugup. Tapi aku tak mempersoalkan itu. Aku hanya duduk didepaannya. Menunggu jawaban sekaligus keperluan apa yang hendak disampaikannya padaku.
“langsung saja Zie. Aku mau nanya. Mmm.. gimana perasaan kamu terhadap aku?”

Pertanyaan yang sangat mengagetkan sekaligus membingungkanku. Tiba-tiba aku ingat perasaan yang seharusnya kutahan. Tapi sudah terlanjur. Aku terbuai oleh perasaanku sendiri padanya. Dan aku tak menyangka dia akan menanyakannya sekarang. Aku sempat mengangkat wajahku untuk melihatnya. Tapi aku tak sanggup. Perasaanku tak tentu. Akhirnya, kutundukkan lagi wajahku.
“kenapa kau menanyakan itu, Ka? Apa ada yang salah dengan sikapku ke kamu?”
“tidak. Tapi aku merasa ada yang salah dengan hatiku, Zie…”
Aku semakin tak karuan. Dadaku seakan mau meledak. Kebahagiaan, dan kehawatiran bercampur baur dalam dadaku.
“Aku merasa, kalau aku sayang sama kamu…”

Air mataku jatuh. Aku tak sanggup dengan semua ini. Aku seakan dihancurkan dengan meriam. Aku seakan hampa tapi aku sesak. Perasaan itu semakin bergejolak dalam dadaku. Aku semakin dan semakin menyayanginya. Apa aku salah telah membiarkan perasaan itu tumbuh?
“kenapa menangis Zie? Apa aku salah berkata begitu? Kalau begitu, maafkan aku”
“tidak, Ka. Setiap orang berhak menyayangi. Tapi tidak denganku”
“maksudmu?”
“kau berhak menyayangiku karena kamu punya hak sendiri. Tapi aku tak punya hak membalas rasa sayangmu itu, Ka. Karena aku tak punya hak memilih”
“kau bisa menceritakannya padaku kenapa kamu bilang tidak punya hak untuk memilih?”
“yang pertama, karena aku tidak pantas untukmu. Yang kedua, aku sudah punya tunangan, Ka”
“siapa yang memilihkan tunangan untukmu?”
“orang tuaku…”

Kudengar desahannya mendengar jawabanku. Aku tahu dia kecewa. Akupun kecewa. Tapi aku memang tidak boleh membiarkan ini terjadi. Cukup perasaanku saja yang menbuncah menyayanginya.
“lalu, bagaimana perasaanmu padaku, Zie?”
“Ka, kamu adalah laki-laki sempurna. Bohong kalau aku tidak menyukaimu. Tapi aku tidak boleh egois. Biarlah perasaan ini subur untukmu. Meskipun kita tak bisa bersatu. Aku tetap akan menjaganya untukmu, Ka. Lagi pula, masih banyak perempuan yang lebih segalanya dari aku. Dan kamu bisa mendapatkannya”
“aku tahu. Mudah-mudahan aku bisa menyayangi orang lain…”
aku hanya bisa tersenyum untuk menguatkannya. Meskipun sebenarnya hatiku terasa begitu nyilu. Bagaimana tidak, aku telah menyia-nyiakan perasaanku sendiri. Aku telah mengecewakan orang yang begitu aku sayang. Aku telah melukainya sekaligus melukai hatiku sendiri. Walaupun begitu, aku mengamini perkataan terakhirnya sebelum dia beranjak dari hadapanku. Ya, semoga dia menemukan orang yang lebih baik dariku.

Sudah dua minggu dia tak pernah lagi mengirimiku pesan. Sikapnya memang tampak seperti biasa. Namun aku tetap tak enak hati padanya. Tapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Dalam dua minggu ini aku merasa tak enak berada di kelas. Rasanya ingin pelajaran segera berakhir. Namun disisi lain, aku ingin melihat dan bersamanya lebih lama. Ini benar-benar suasana yang mematikan. Akupun sering tidur di kelas untuk dapat melupakannya.

Aku tengah berjalan menuju kelas. Saat hpku berdering. Dari Kafi. Tumben. Namun aku bahagia.
“akupun akan terus menyimpan perasaan ini untukmu, Zie. Karena aku benar-benar tak bisa menepis rasa ini… sebagaimana kau akan selalu menjaga perasaanmu padaku…”

Aku terharu membacanya. Sengaja tak kubalas karena aku telah berada dipintu kelas. Kulihat Kafi telah duduk bersandar manatapku sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumnya yang membuat hatiku kembali damai.
“terima kasih. Aku tahu, perasaan kita abadi”. Ucapku pelan ditelinganya.
Dan kulihat dia memejamkan mata. Menyebut namaku satu kali “Zie…”