Minggu, 02 Oktober 2016

Arti Ibu Bagiku

Arti Ibu Bagiku.....
 Ibu adalah sosok terhebat dalam hidupku dialah orang yang satu-satunya mengerti tentang perasaanku dia yang tahu semua isi hatiku. Dialah orang yang paling hebat didunia ini, Ibu aku tahu saat kau sedih kau takpernah melihatkan rasa kesidihanmu kau berusaha tersenyum untuk anak-anakmu saat kau lelah ibu kau berusaha untuk tetap tersenyum..
Ibu sungguh besar penggorbananmu ibu, aku masih ingat saat kau memarahiku atas kesalahan yang pernah ku buat kau begitu marah kepadaku tapi aku sadar bu kemarahanmu adalah tanda kasih sayangmu bu.Sungguh kau adalah wanita terhebat dalam hidupku bu kau yang tahu segalanya tentang aku bu yang tahu perasaanku bu...
  Arti ibu bagiku saat dimana aku memiliki permasalahan dalam hidupku aku selalu bercerita tentangmu tentang apa yang aku rasakan, dan kau memberiku nasehat dan jalan keluar untuk masalahku. Ibu aku masih ingat ketika aku masih duduk dibangku TK kau membanggunkanku dan mengantarkanku pergi kesekolah dan kau juga yang menyiapkan sarapan pagi untukku kau mengajarkanku banyak hal bu...



 Arti Ibu Bagiku....
Ibu ketika aku meranjak dewasa kau selalu menasehatiku tentang kehidupan yang akan datang tentang masa depanku dan kau selalu selalu menesehati tentang hal itu. Ibu aku tahu kasih sayangmu tak akan pernah habis untukku, ketika aku melakukan kesalahan lagi kau pun memarahi aku lagi tapi aku sadar marahmu adalah bentuk kasih sayangmu. Ibu aku tahu kau selalu mementingkan kebahagian anak-anakmu ibu tanpa kau sendiri memikirkan kebahagianmu ibu.

Arti Ibu Bagiku....
Ibu sekarang aku sadar betapa besar penggorbanan hidupmu untuk anak-anakmu. Dan sekarang tantangan terbesar dalam hidupku adalah membahagiakanmu dan bisa membuatmu tersenyum bangga akan anakmu ini, anak yang selama ini  kau besarkan dengan penuh kasih sayang dan penuh perhatian tanpa kekurangan apapun semoga bisa membuatkan bangga akan anakmu ini ibu.
Ibu tahuka engkau ibu ketika kau tidur aku selalu memperhatikan raut wajahmu ibu raut wajahmu yang polos ketika kau tidur aku tahu ibu banyak beban yang kau pikul ibu tapi kau selalu berusaha untuk tersenyum dihadapan kami walaupun sebenarnya hatimu terluka ibu.
Dan dalam setiap shalatku ibu aku selalu mendoakanmu semoga allah melindungimu dan memberikan umurmu yang panjang hingga aku bisa membahagikanmu ibu dan bisa melihat anakmu sukses ibu.

Ibu saat aku jauh darimu aku merindukan akan nasehatmu aku merindukan omelanmu yang kadang membuatku pun jengkel sendiri tapi bu aku sadar semua itu adalah bentuk kasih sayagmu yang secara tak lagsung kau ucapkan.


Minggu, 25 September 2016

Senyuman Yang Menangis

  Gadis itu terus saja termenung di salah satu bangku panjang yang ada di taman kota. Angin begitu sejuk hingga menerpa helaian rambutnya, membuatnya semakin indah sebagai ciptaan tuhan.
Pandangannya terus menatap lurus dengan pandangan kosong, yang ada di hadapannya kini terlihat jelas banyak insan yang sedang bersenang-senang ria dengan orang yang mereka sayangi.

“Kamu lagi apa sih sayang?” Gadis itu menoleh ke sampingnya. Ia tersenyum lalu mendekap pria itu dengan erat.
“Kamu kenapa Dir?” Tanyanya lagi
“Aku kangen sama kamu, kamu nggak boleh tinggalin aku” ucap Nadira sambil mengeratkan pelukannya, seolah ia tak ingin apa yang sudah ia miliki hilang kembali.

Pria itu tersenyum lalu melonggarkan pelukannya, ditatapnya mata hazel milik Nadira.

“Sayang hei dengerin aku ya, sampai kapanpun aku nggak akan pernah ninggalin kamu, aku akan selalu ada di samping kamu, jadi kamu nggak usah berpikir bahwa aku bakal ninggalin kamu, ya?”
“Janji?” Dion hanya terkekeh sendiri melihat tingkah kekanak-kanakan dari Nadira, lalu tangannya menarik Nadira ke dalam pelukannya, menenangkannya agar ia tahu, bahwa dirinya tak akan pernah meninggalkan gadis yang sangat ia cintai.
“Aku janji sayang”

Nadira menenggelamkan kepalanya ke dalam dada bidang Dion, dihirupnya aroma mint yang melekat di tubuh kekar Dion, seolah menjadi candu untuknya serta membuatnya semakin tenang dalam keresahan.

“Jangan sedih gitu, kamu itu cantik kalau lagi senyum”
“Ish, Gombal”
“Nggak kok, kan emang fakta”
“Tetep aja Gombal, Dion sekarang jadi tukang gombal” Dion terkekeh geli melihatnya, melihat Nadira tersenyum bahagia bukan lagi kebahagiaan bagi Dion, tapi sudah seperti pelengkap hidupnya.

Nadira kembali mendekap dan melingkarkan tangannya ke perut Dion, memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir rasa nyaman yang sudah ia dapatkan selama tiga tahun ini dari kekasih yang sangat ia cinta, Diony Fahran Assegaf.

“Sayang” sahut Dion dengan suara yang lirih, Nadira mendongkakkan kepalanya menatap mata Dion yang sendu dan menyejukan bagaikan embun.
“Iya?”
“Kamu mau kan hidup bareng aku?” Pertanyaan itu berhasil membuat Nadira melepaskan dekapannya dan menatap Dion dengan tatapan tajam.
“Maksud kamu apa?” Tanya Nadira yang masih tak mengerti dengan alur dialog yang masih terasa ambigu.

Dion menggenggam erat kedua tangan Nadira lalu ditatapnya mata hazel itu dengan berbagai macam arti.

“Tiga tahun aku dan kamu terikat sama hubungan ini, tiga tahun pula kita bersama dan menjalani hidup bersama setiap hari. Aku sudah banyak tahu tentang kamu, semua tentang kehidupan kamu, dan pastinya kamu juga sudah banyak tahu tentang kehidupanku, Nadira.” Nadira menyerjitkan dahinya masih bingung dengan penjelasan dari Dion, tapi ia sama sekali tak berniat untuk memotong pembicaraan Dion yang sepertinya akan serius.
“Aku mau kamu ada di hidup aku seutuhnya, menerima semua kekuranganku, dan melengkapi segala kelebihanku. Aku mau kamu Nadira, kamu ada di setiap waktu untuk menemaniku di sepanjang waktu dan aku mau kamu yang kelak menjadi jodohku. Nadira, apa kamu mau menjadi seseorang yang akan menemani sisa hidupku, menjadi calon bidadari surga serta menjadi ibu untuk anak-anakku kelak?” Penjelasan itu membuat Nadira menutup mulutnya tak percaya, ia tak percaya, padahal dulu ia selalu berusaha agar Dion peka pada hubungannya yang tak bisa dimain-mainkan, mengingat usianya yang sudah menginjak 25 tahun.

Air mata Nadira meluncur seketika, ia langsung menghamburkan tubunya ke tubuh Dion dan ia terisak disana, Dion yang melihat masih bingung pun hanya mengusap halus punggung Dira.

“Aku mau Dion, aku bersedia menjadi seseoang yang bisa menjaga dan menemani dikala senang maupun duka dihidup kamu. Aku mau menjadi masa depan kamu, aku mau menjadi ibu dari anak-anak kita nanti, Aku bersedia, Dion”
“Benarkah, Dir?” Tanya Dion tak percaya saat Nadira melepaskan pelukannya.
“Lihat mataku Dion, sejak dulu aku menginginkan kamu yang berhak menatap mataku ini selamanya, aku benar ingin menjadi orang yang bisa melengkapi segala kekurangan dan kelebihanmu”
“Terimakasih, Dir. Aku mencintaimu”
“Aku mencintaimu lebih, Dion”

Dion menghapus air matanya lalu ia menghapus sisa air mata Nadira, perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya hingga Nadira memejamkan matanya sejenak.

Diciumnya kening Nadira, lalu beralih mengecup kedua kelopak mata Nadira, hidung, dan kemudian beralih pada bibir merah ranum Nadira yang selama ini belum sekalipun tersentuh. Nadira tersenyum lalu mengangguk, Dion tersenyum lalu mengecup bibir Nadira dengan lembut, menyalurkan rasa cinta yang paling dalamnya untuk gadis manis tersebut.

“Mau ice cream?” Tanya Dion membuat mata Nadira terbuka lebar, lalu ia tersenyum
“Mauuu” pekik Nadira, namun hal itu membuat Dion terkekeh geli melihat sikap menja yang selalu melekat pada Nadira.
“Ya udah kita ke kadai ice cream, ya. Udah itu kita ke rumah kamu, aku mau langsung bicarain tentang pernikahan kita sama keluarga kamu, sekalian aku mau ketemu Bunda, udah lama nggak ketemu”
“Iya, bunda bilang dia kangen sama kamu”
“Berarti aku punya signal kuat dong”
“Apa?”
“Belum apa-apa udah direstuin sama calon mertua”
“Isshh Dion nyebelin, ayo”

Dion tertawa lalu mengajak Nadira ke kedai ice cream yang berada di dekat Taman. Wajah Nadira sangat cerah, secerah cuaca yang sedang terpatri di langit luas.

Tak butuh beberapa lama, Mereka akhirnya duduk dan memesan Ice cake.

Dion memperhatikan Nadira yang sedang asyik melahap ice cup miliknya, sangat menggemaskan. Ini yang membuatnya semakin cinta pada sosok Nadira yang sangat periang, tak ada alasan untuknya mengapa ia begitu mencintai gadis itu, karena apa yang ada di hatinya, ia sudah tahu bahwa dialah takdirnya.

“Kamu kok liatin aku terus?” Tanya Nadira saat melihat Dion sedang memandangnya sejak tadi. Dion tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap sesuatu yang berada di sudut bibir Nadira, hal itu membuat Nadira tersentak kaget.
“Makanya kalau makan ice cream jangan kaya orang yang lapar dong”
“Ih, aku kan nggak tahu”

Dion tersenyum lalu menatap Nadira, tangannya ia gunakan untuk menopang wajahnya, hal itu membuat Nadira tersenyum malu.

“Nadira, Lo kenapa senyum-senyum?” Tanya seseorang yang sudah duduk di hadapan Nadira. Nadira tersentak kaget sudah melihat Sisil berada di hadapannya. Dimana Dion? Bukannya tadi ada bersamanya, lalu mengapa sekarang menghilang dan berubah menjadi Sisil?
“Nadira, Lo kenapa sih?” Tanya Sisil kembali saat melihat Nadira yang seperti orang kebingungan.
“Sisil?” Tanya Nadira yang baru menyadari kehadiran Sisil di hadapannya. Sisil menghela napas sejenak. “Lo kenapa, Nad?”
“Dion” ujar Nadira seketika, kening Sisil mengkerut saat mendengarnya. “Dion mana Sil? Tadi dia ada disini? Lo liat Dion nggak? Atau mungkin dia buru-buru sampai nggak pamit sama gue?” Tanya Nadira bertubi-tubi. Dapat terlihat jelas bagaimana ekspresi khawatir dan bingung di wajahnya.
“Nadira” ucap Sisil, namun Nadira malah bangkit dari duduknya.
“Sil gue harus pergi, gue mau cari Dion. Kayanya dia ada di luar. Bye”
“NADIRA!” Sisil meninggikan ucapannya saat Nadira hendak melangkah, untung mereka berada di luar kedai saat itu.

Nadira menatap Sisil dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Dion udah tenang disana, Nad. Dia udah nggak bisa lo cari lagi kemana-mana” pernyataan itu mampu membuat Nadira terpaku di tempatnya, lalu ia kembali menghempaskan bokongnya di kursi dengan pandangan yang kosong, ia masih ingat saat di taman Sisil mengajaknya bertemu di kedai ice cream, tapi keterlaluannya ia malah berkhayal bahwa ia masih memutar kenangan itu sampai kini.

Nadira terdiam, ia sadar, Dion sudah tidak ada, ia sudah pergi, ia pergi dari hidupnya seolah terhembus angin tanpa kata. Memorinya kembali memutar saat kejadian ia dan Dion pulang sehabis melakukan fitting baju, kecelakaan itu berhasil merenggut nyawa orang yang sudah ia cintai walaupun hampir juga merenggut nyawanya dengan menjalani kritis selama beberapa minggu.

Tesss

Air mata itu kembali terjatuh, Nadira sadar, takdir memang selalu mempunyai cara sendiri untuk mengaduk perasaan seseorang. Dan kini takdir yang dulu ia harapkan sudah terenggut dan tak bisa menjadi kenyataan, semua kini telah maya, tak bisa menjadi nyata. Jiwanya sudah terbawa mati bersama raga sang kasih, ia rindu, sungguh. Dan jika takdir ini bisa berlanjut, ia hanya ingin satu; tidak mau untuk yang kedua kalinya.

Kamis, 22 September 2016

Kejutan dibulan Juli

Pagi ini udara terasa sangat sejuk, mentari yang sejak tadi bermain-main dengan gumpalan awan nampaknya masih asik dengan kegiatannya.
“Cuaca yang sangat bersahabat” batinku.
Kukenakan sweater favoritku dan siap-siap bergegas untuk lari pagi di taman kompleks sekitar rumah.
“Selamat pagi nona Yesi” sapa tetangga seberang rumahku.
“Selamat pagi kembali” balasku.
Yah, tetangga sekitar rumahku sangat bersahabat serta ramah tamah. Aku wanita yang super cuek, jelas saja terasa asing bilang bertemu dengan mereka, namun warga di sekitar kompleks ini sangat mengerti akan toleransi dan solidaritas sesama penduduk hingga mereka memaklumi akan sikapku yang kerap kali kurang baik menurutku. Pernah suatu ketika saat aku berada di pusat perbelanjaan ada seorang ibu paruh baya menyapaku, sontak saja aku terkejut dibuatnya. Aku yang terlalu sibuk akan rutinitasku membuatku lupa akan bersosialisasi dengan tetangga di kompleks sekitar rumahku. Untung saja ibu tersebut tidak mengetahui kebingunganku, aku hanya tersenyum ramah saat itu, namun masih dalam fikiran bertanya-tanya. Setelah beberapa hari berlalu, kudapati seorang ibu yang pernah menyapaku tempo hari ternyata tetanggaku yang rumahnya 2 block dari rumahku.
Tick Tock Tick… nada pesan masuk.
“Dari nomor yang tidak dikenal” batinku.
“Selamat anda lolos dalam seleksi terakhir dan dapat bergabung di perusahaan kami. Untuk kehadirannya pada tanggal 08/06/2014 pukul 09.00, diharapkan berpakaian hitam putih untuk melaksanakan proses training dan pembagian area penempatan kerja. Terima kasih.”
Syukur alhamdulillah, ternyata tuhan telah menjawab doaku. Setelah resign dari pekerjaan lamaku, hampir cukup lama aku menganggur. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur saat perjalanan pulang menuju rumah. Hari ini hatiku sangat bahagia seperti alunan melodi yang sedang kudengarkan saat ini, hingga diriku hanyut ke dalam alam bawah sadar, sedetik kemudian diriku telah tertidur lelap.
“Nyenyak sekali tidur siangku kali ini” gumamku.
Kucek handphoneku yang sejak tadi masih dalam keadaan Play Music. Ada 3 panggilan tak terjawab dan 1 pesan masuk. Kuperiksa status panggilanku, ternyata orang yang menelepon itu, seseorang yang kukenal, kemudian ke pesan masuk dan ternyata dari orang yang sama.
“Kamu kemana saja? Aku meneleponmu, tapi tak ada jawaban. Hari senin besok pastikan tak ada acara ya, aku tunggu di tempat biasa kita bertemu jam 7 malam. Ok, see you later.” Pesannya
“Maaf, aku ketiduran. Iya aku pasti datang.” Balasku
Dia adalah seorang pria yang pernah singgah di hatiku, kami pernah menjalani sebuah hubungan, namun akhirnya kandas di tengah jalan, 10 bulan kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Sampai saat ini aku masih mencintainya, dia adalah kekasih dan juga cinta pertamaku. Setelah mengakhiri hubungan kami, kami berjanji tidak akan saling menjauh satu sama lain, tidak putus komunikasi dan menjalin hubungan pertemanan yang baik. Mungkin aku terkesan manusia paling naif, jujur saja aku masih mempercayainya, mengharapkannya dan menanti janjinya. Aku bukan seseorang yang mudah untuk jatuh cinta hingga membuatku gagal move on sampai saat ini, banyak pria yangg dekat denganku namun hanya sekedar teman atau relasi untukku. Masih terekam jelas di memoryku masa dimana kami masih bersama, janji yang pernah kami buat, komitmen yang pernah kami bentuk, namun semuanya sirna hanya tinggal kenangan. 3 tahun sudah aku mengenal dan dekat dengannya namun tak ada keberanian di diriku untuk menanyakan hubungan asmaranya. Apakah dia sudah memiliki kekasih atau belum? Apakah dia sedang menjalani hubungan serius dengan seorang wanita? Bodohkah diriku masih menunggunya? Naifkah diriku masih menyimpan perasaan untuknya? Pertanyaan inilah yang selalu mengganggu fikiranku, membuatku terperangkap dalam kesunyian yang mendalam.
“Bismillah” kata pertama yang kuucapkan pagi ini.
“Semangat Yesi, hari pertama bekerja berikan kesan terbaikmu.” Tekadku dalam hati.
Kulajukan sepeda motorku dengan sangat santai karena sekarang masih pukul 8 pagi, kusapa setiap orang yang kulewati, pagi ini harus menjadi hari yang sangat istimewa karena ada 2 peristiwa penting dalam sejarah hidupku hari ini. Pertama, telah lepas status pengangguranku hari ini. Ke 2, hari ini, hari dimana aku pertama kali mendapat pernyataan cinta dari seseorang. Setengah jam aku sampai di kantor baruku, yah inilah pekerjaan yang sejak awal selalu aku impikan.
“Welcome My Dream” gumamku.
Hari ini cukup melelahkan, namun aku bahagia. Aku menikmati pekerjaan baruku, karyawan yang lain menyukaiku dan aku nyaman berada di perusahaan ini. “Semoga karirku cerah di perusahaan ini.” Doaku sore ini.
Sudah pukul setengah 7, kulajukan sepeda motorku dengan kecepatan sedang, hanya butuh 15 menit untuk sampai di tempat itu. “Sepertinya dia belum datang” fikirku. Kuambil tempat duduk di area outdoor. Lalu kukirimkan pesan untuknya.
“Kamu dimana? Aku sdh sampai, aku menunggumu di area outdoor.” Pesanku
“Iya tunggu sebentar, aku segera datang.” Balasnya
Sudah pukul 7.15 dia belum juga terlihat, perutku sudah mulai lapar, kupesan ice cream coklat dan kentang goreng untuk mengganjal perutku. Sepertinya akan ada pesta malam ini di ruang party, karena terdapat banyak dekorasi yang terpasang disana. “Kenapa dia lama sekali” batinku.
Setengah 8 kurang, udara malam ini sangat menusuk, hingga membuat tulang-tulang persendianku terasa ngilu. Kudekap kedua lenganku, mengurangi rasa dingin yang semakin kejam menjalari seluruh tubuhku, aku lupa membawa sweater biru muda kesayanganku, andaikan aku tidak melupakannya mungkin saja aku tidak semenderita ini. Apakah dia ingat hari ini? Apakah dia membelikanku sesuatu hingga dia terlambat sampai saat ini? Ah sudahlah jangan berfikir yang macam-macam. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku, oh ternyata dia.
“Kamu dari mana?” Tanyaku
“Maaf di jalan sedikit macet” Jawabnya
“Hampir saja aku tertidur” Candaku
“Memang kamu si ratu tidur kan” Ledeknya
“Huh, jahat.”
“Hahaha. Maaf sudah membuatmu terlalu lama menunggu.”
“Andai saja kamu tahu, sudah 3 tahun aku menunggumu. Oh bukan, maksudku menunggu cintamu.” Batinku
Kenapa dia sangat berbeda malam ini, dia sangat mempesona. Oh tidak, ya Tuhan apa sih yang sadang kufikirkan sekarang. Mendadak dia bangkit dari tempat duduknya dan mendekati tubuhku, ternyata dia memasangkan jaketnya ke tubuhku. Mungkin dia melihat diriku yang sedikit menggigil kedinginan.
“Ayo kita masuk” Ujarnya
“Kemana?” Tanyaku
“Ke ruangan itu”
Lalu kami berdua masuk ke ruangan party yang kulihat sekilas tadi, menakjubkan sekali, ruangan itu terlihat seperti pesta taman, dekorasinya sangat luar biasa. Sudah ada seorang pembawa acara disana dan beberapa orang yang memakai kaos yang bertuliskan huruf.
“Selamat malam nona Yesi” Sapanya
“Selamat malam”
“Mungkin nona Yesi sedikit bingung dengan tempat ini dan beberapa orang yang ada di depan anda?”
“Iya, ini ada apa?”
“Ya, saaa akan menjawab semua pertanyaan anda. Disini kita akan bermain suatu permainan, seperti permainan menyusun huruf. Jadi tugas anda adalah menyusun semua huruf yang di pakai oleh orang-orang di depan anda hingga membentuk suatu rangkaian kalimat. Anda mengerti nona?”
“Ya, aku mengerti.”
Hmmm, permainan menyusun huruf, ini seperti permainan scrabble yang pernah ku mainkan waktu sekolah dulu. Sepertinya aku bisa menyusunnya, e-m-r-a-r-m-y-y-o-u-l-l-i-w? Huh sulit sekali menyusun huruf-huruf ini, tapi tunggu dulu “my war our milley?” Apakah ini maksudnya?
“Bagaiman nona, sudah tersusun?”
“Aku tidak yakin”
“Silahkan nona”
“Apakah ini susunannya? My war our milley?”
“Hmmm. Maaf nona susunan anda salah.”
“Jadi yang benar apa?”
Sedetik kemudian orang-orang yang telah memakai kaos bertuliskan huruf itu mengubah posisi mereka. Tanpa kusangka ternyata huruf-huruf itu membentuk kalimat bertuliskan “will you marry me?” Ya tuhan apa maksud dari semua ini?
Mendadak suasana menjadi hening.
“Yesi. Will you marry me?”
Sambil bersimpuh di hadapanku dia mengucapkan “will you marry me?” dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku kemejanya lalu membukanya, kotak itu berisi sebuah cincin emas. Pengunjung yang sejak tadi memperhatikan kami, sudah antusias menyuarakan “terima, terima, terima…”
Namun yang terucap dari mulutku kata “Maaf”. “Maaf, aku tidak bisa menerimanya.” Terlihat raut rasa kecewa di wajahnya, namun aku tidak bisa menerimanya.
“Maaf. Maksudku aku tidak bisa menerima perlakuanmu malam ini, kamu terlalu romantis malam ini.”
“Jadi?”
“Yes, I will marry with you. I always love you yesterday, now, tomorrow and forever.”
Tepat hari ini 08/06/2014 dia melamarku di depan pengunjung restoran tersebut. Aku sangat bahagia tuhan, malam ini adalah mimpi terindah yang pernah ku alami. Awan hitam dan badai hujan telah berlalu, kini saatnya warna-warna pelangi yang menghiasi hidupku.
2 tahun kemudian
08/06/2016 hari ini adalah hari pernikahanku, tepat di usiaku yang ke 25, sesuai dengan janjinya 5 tahun silam. Terima kasih tuhan, telah memberikan kebahagiaan yang tiada hentinya. Aku bahagia bersamanya, kan kujaga kejutan terbaikmu untukku selamanya.
Cinta kadang harus meninggalkan luka, namun cinta sejatilah yang akan menjadi obat terhebat penebus luka.