Sebatas Cinta Untuk Kita
Cerita Cinta Romantis 2016 yang bakal bikin kamu meneteskan air mata
Ingin ku berlari jauh
Namun aku tak mampu
Bersembunyi darimu
Selaluku tepis bayanganmu
Tapi luka semakin menganga dalam kalbu
Kubiarkan semua apa adanya
Meski ku semakin larut dalam harapan hampa
Aku tunggu ketulusanmu
Walau harus selamanya
Aku memendam rindu. . .
Mungkin
itulah sebuah curahan hatiku ini, yang dilanda kesedihan karena cinta.
Padahal ini adalah pertama kalinya aku jatuh cinta. Namun, cintaku aneh.
Mencintai dia, yang mempunyai saudara kembar yang membenciku. Ya, sosok
yang aku cintai itu mempunyai saudara kembar. Namanya Angga dan Anggi.
Anggalah yang aku cintai. Dia telah berhasil menarik hati ini, untuk
mencintainya. Sedangkan Anggi. Huft, dari tatapannya aja, aku sudah bisa
menilai, kalau dia membenciku. Entah aku sendiri juga nggak tau, apa
salahku.
 |
| Sebatas Rasa Untuk Kita |
Angin berhembus, menerpa wajahku dan menusuk tubuhku yang dibalut
jilbab. Aku terus terduduk di rumput, sambil menatap gunung yang
menjulang tinggi dari kejauhan mataku.
Pikiranku teringat pada kenangan masa SMP dulu.
Sampai di perpus. . .
“Nil? Loe dicariin orang tuh!” lapor Icha, sahabatku.
“Siapa?” tanyaku cuek.
“Hmm… siapa ya?” Icha pura-pura mikir, sambil menggodaku. Aku mengangkat satu alis.
Icha
melihat sesuatu. “Sama dia!” tunjuk Icha pada Angga, yang baru
menginjakkan kaki di perpus. Aku bengong. Benarkah yang dikatakan Icha
ini? Angga menatapku sambil tersenyum. Hatiku entah mengapa, jadi
cenat-cenut. Akhir-akhir ini, semenjak sering bertemu Angga selalu
perhatian dan rajin ke perpus. Aku cuek, tidak mengubris. Toh
pekerjaanku sebagai anggota perpus, masih menumpuk.
“Aku bantuin ya?” tawar Angga, dengan senyum tulus. Ia sedikit salting.
Tak kuat menahan senyum, akhirnya aku tersenyum juga buat dia. “Up to you.” Jawabku.
Dan benar saja. Angga membantuku. Ia tata rapih buku-buku yang berantakkan. Aku tersenyum melihatnya.
“Cie…
cie…” goda Faris. Sahabat Angga. Aku dan Angga masa bodo. Memang
persamaan kita disekolah itu, sama-sama cuek. Namun, walau Angga cuek,
tapi banyak saja cewek-cewek yang mendekatinya.
Aku tersadar, sambil
tersenyum mengingat itu. Mataku tetap menatap pemandangan gunung di
kejauhan. Pikiranku kembali teringat kenangan masa SMP.
Waktu
itu, aku sakit di sekolah. Perutku sakit dan kepalaku terasa pusing.
Akhirnya aku dibawa ke ruang uks, dirawat oleh anak PMR kelas delapan.
Tiba-tiba datang salah satu anak PMR, bernama Sufi.
“Kak, dapat surat nih!” katanya sedikit menggoda.
“Dari siapa?” tanyaku. Keningku berkerut bingung.
“Sufi udah janji, sama orangnya, nggak bakal ngasih tau namanya ke kakak. Maaf ya kak!” terangnya.
Aku heran, namun langsung kubuka saja surat itu, dengan perasaan campur aduk.
Mengenalmu
Anugerah dalam hidupku
Memilikimu
Itu yang selalu ku harapkan
Membiarkanmu berlalu
Tanpa sepatah kata pun
Yang terucap dari bibirku
Adalah suatu kebodohan dihidupku
Karena telat bagiku menyadari
Kau sangat berarti di dalam hidupku
Hanya secercah penyesalan
Yang bisa ku rasakan
Disaat ku kehilanganmu
Dan menyadarinya…
Semoga kamu cepat sembuh…
Keningku
berkerut lagi membaca surat itu. Namun aku terharu dengan kata-kata di
surat ini. Aku menatap kearah jendela yang tidak tertutup gorden.
Tiba-tiba sosok yang aku rindukan selama seminggu ini, muncul. Angga.
Ya, dia sedang berjalan disitu. Mataku menatapnya, hingga dia menoleh
dan menatapku. Tatapan yang sulit untuk dilukiskan. Aku gugup. Segera
saja, ku tundukkan kepalaku. Dan sekarang aku merasa ia telah pergi.
Hari-hari ini juga, aku merasa dia menjauh dan menghindariku. Setiap
bertemu, dia selalu melempar pandangan kearah lain. Dia juga sudah
jarang ke perpus. Ada apa ini? Kenapa dia berubah seperti itu?
Tapi,
setiap aku kenapa-napa, dia masih menunjukkan sikap perhatiannya.
Seperti aku sakit sekarang. Dia menghampiriku dan ikut membawaku ke UKS.
Setelah itu, ia pergi entah kemana. Aku tertidur di UKS. Tiba-tiba aku
merasa ada seseorang yang datang. Aku merasakan gerak-geriknya.
“Nggak
tega juga, melihat kamu sakit begini. Kamu tau, aku memang cowok nggak
jentel. Bertemu kamu aja, aku harus sembunyi-sembunyi. Aku harap kamu
cepat sembuh ya. Aku bawakan sesuatu buat kamu!” Ucap seseorang itu,
terdengar seperti suara cowok. Dia menyentuh keningku, dan langsung
beranjak pergi. Mataku terbuka sedikit. Sungguh aku kaget. Aku tak
menyangka. Ku kucek-kucek lagi penglihatanku. Namun itu nyata. Sosok itu
adalah Anggi. Cirri-ciri fisiknyalah yang membuat ku yakin. Tatapanku
beralih pada meja yang ada disampingku. Ada kantong plastik yang berisi
makanan. Aku jadi bingung dibuatnya.
Hari-hari itu, kulalui dengan
sebuah kebingungan. Namun, tiba-tiba aku tertampar oleh sebuah luka. Aku
mendengar dari sahabatku, Angga sudah punya pacar. Sakit rasanya. Dari
situ, entah ada rasa kecewa yang mendalam, hingga membuatku berniat
untuk melupakannya dan melupakan rasa yang dulu memenuhi hatiku.
***
“Ukhti, Nila?” panggil adik kelasku, Zahra.
Aku menoleh ke asal suara. Seketika pikiranku buyar. “Madza?” tanyaku.
“Ukhti, mudifah!” jawabnya memberitahu.
Aku
heran. Baru seminggu kemarin aku dijenguk, tapi sekarang di jenguk
lagi. Ada apa gerangan? Ya. Aku memang melanjutkan studyku di sebuah
Pondok Pesantren. Semua itu, dengan niat menuntut ilmu dengan mengharap
ridho Allah dan untuk membahagiakan orang tuaku. Walau telah lama
ditambah jauh. Tapi, tetap saja sebuah kenangan masa SMP masih teringat
dibenakku.
“Oh, na’am. Syukron, Zahra!” balasku.
Zahra tersenyum. Aku segera bangun dari duduk. “Mudifah, aina?” tanyaku lagi.
“Masyroh.” Jawabnya.
Ternyata aku di jenguk di trimbun. Dengan langkah cepat, kuhampiri keluargaku disana.
***
Di
samping kanan, dekat saung. Ada sebuah mobil. Tapi bukan mobil, yang
biasa di pakai keluargaku. Mobil itu, merek kijang innova silver, bukan
avanza silver.
“Nila!” panggil ayahku.
Aku tersenyum. “Ayah?” ku
hampiri ayah dan mamaku. Ku cium punggung tangan mereka dan pipi mereka.
“Kok cepat banget mudifahnya?” tanyaku, yang sedari tadi, keheranan.
“Ada yang mau bertemu kamu, sayang!” terang mamaku, sambil tersenyum misterius.
Keningku berkerut bingung. “Man, ma?”
Pintu
mobil terbuka. Lalu keluarlah sosok Ibu dan Bapak paruh baya. Aku
langsung mencium punggung tangan mereka. Mereka tersenyum ramah padaku.
“Kamu cantik sekali, nak!” puji sosok Ibu paruh baya itu.
Aku hanya bisa tersenyum. “Terima kasih, Bu!”
“Bu,
Pak! Lebih baik kita duduk disini dulu, sambil menunggu Nila dan Angga
berbicara.” Jelas ayahku, yang dibalas langsung dengan anggukkan mereka
berdua.
Aku kaget bukan main, mendengar perkataan ayahku tadi.
Hah? Angga? Apakah aku salah dengar? Angga ada disini? Jadi, Ibu bapak ini, orang tuanya Angga… dan … Anggi?
“Assalammualaikum!” sapa Angga, yang baru keluar dari mobil.
Aku
makin kaget, ketika Angga sudah ada dihadapanku. Satu tahun lebih kita
tidak bertemu. Kini, kita bertemu di suasana berbeda. Angga terlihat
lebih dewasa, memakai celana jeans hitam, dengan kemeja biru dongker.
“Wa… waalaikum salam.” Balasku gugup, sambil menunduk memainkan ujung kerudungku.
Angga
tersenyum. “Kamu kaget ya, dengan kedatanganku ini. Aku ngerti kok.
Karena suatu sebab, aku dan orang tuaku menemuimu disini.” Terangnya.
Aku mendongak. “Untuk apa?” tanyaku dengan suara lirih.
“Anggi.” Jawabnya singkat, namun mampu membuatku bagai tersengat aliran listrik.
***
Malu
juga, berbicara dengan Angga di depan santri-santri yang juga sedang di
jenguk oleh orang tuanya. Banyak yang ingin tau, sekedar bolak-balik,
dan menatap. Aku risih. Lalu Angga mengajakku untuk bergabung dengan
orang tua kita. Aku masih tertegun. Rasanya seperti mimpi Angga ada
disini.
“Kamu kaget ya Nak, kami datang kesini?” ucap ayahnya Angga ramah. Aku hanya bisa tersenyum kikuk.
“Sayang, kali ini mama sama ayah, mengizinkan kamu untuk pulang.” Ucap ayahku.
“Pulang? Lho, memangnya kenapa, Yah?” tanyaku heran.
“Kami
sama-sama sudah mengerti soal ini. Ini soal rasa, nak! Kamu sudah
menanjak dewasa sekarang. Angga pun begitu. Wajar jika misalnya kamu
sedikit berkorban untuk orang yang menyayangimu!” terang mamaku.
Sumpah.
Aku benar-benar nggak mengerti dengan perkataan mama ini. Tanpa
disuruh, mamanya Angga menjelaskan. Dan penjelasan ini, mampu membuatku
menitikkan air mata.
***
Di rumah sakit, didalam kamar cempaka
dua. Mataku terpaku pada satu titik. Anggi. Sosok yang dulu terlihat
kuat, dewasa, dan ceria. Kini menjadi sebaliknya. Gerimis juga hati ini
melihatnya.
“Kanker darah yang dideritanya, sudah stadium lanjut.
Dokter hampir pasrah dengan kondisinya ini yang semakin parah. Kamu tau,
dia selalu mengigau menyebut namamu.” Terang Angga, yang duduk di
seberangku. Kini, mataku berani menatapnya, walau sebentar. Mataku
kembali menatap Anggi yang terbujur lemah di ranjang rumah sakit.
“Benarkah yang dikatakan kamu ini, Angga? Sejujurnya, aku merasa Anggi membenciku.” Terangku.
Angga
menggeleng kuat. “Tidak, Nil! Itu nggak benar. Anggi sebenarnya
menyukaimu! Dia menyayangimu. Hanya saja, dia tidak tau, harus bagaimana
menunjukkannya.”
Benarkah yang dikatakan Angga ini, Ya Allah! Ucapan
Angga begitu meyakinkan. Tiba-tiba, jari jemari Anggi bergerak. Aku
terkejut, namun lega.
“Nil… Nila…” lirih Anggi membuatku terkejut.
“Aku, disini Gi!” ucapku.
Mata Anggi melirik ke arahku. Ia tersenyum tulus. Hatiku bergetar. Ku balas senyuman itu. “Ma… ma… afkan… ak… ku…”
“Maaf? Untuk apa? Bagiku, kamu nggak pernah salah!” balasku, bingung.
“Ma… af. Jika se… la… ma… i… ni. Aku, mendiamimu! A… ku, men…yanyangimu, Nil!”
Hah? Anggi? Apa yang kamu katakan ini? Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku membisu.
“Wa… lau, ter… lambat ta… pi a…ku lega, Nil! Ma… ka… sih, u… dah mau nengok a… ku! Hhh…”
Grafik pendetak jantung, yang tadinya naik turun, kini berubah lurus beraturan. Itu adalah tanda, bahwa Anggi…
Ya Allah, aku mohon, izinkan Aku untuk melihat senyumannya lebih lama lagi! Aku mohon, kembalikan lagi nafas hidupnya, Tuhan!
Aku
menangis. Baru kali ini, aku merasakan kehilangan. Walau sudah lama tak
bertemu, Anggi tetap menjadi sebagian dari kisahku di masa SMP dulu. Ya
Allah, ku mohon bahagiakanlah Dia di sisi-Mu!
***
Ku
berjongkok di dekat pusara bernisan Anggi. Air mataku membulir.
Disampingku, ada Angga yang dengan setia menemani. Kini tinggallah kami
berdua yang menemani Anggi di rumah barunya.
“Kenapa kamu ninggalin
aku, Gi! Kita belum lama berbicara, tapi kenapa kamu udah langsung
ninggalin aku begitu saja. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih
sama kamu waktu di UKS itu! Tapi aku selalu berdoa buat kamu, supaya
kamu bahagia disana!” Ku elus lembut nisan Anggi. Aku masih terisak.
“Nil… kita pulang yuk?” ajak Angga, yang sedari tadi diam saja melihatku terisak. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
“Kamu baik-baik disini ya, Gi! Kita harus pulang. Kita akan selalu berdoa untukmu!” ucap Angga. Suaranya terdengar berat.
***
“Nil?” panggil Angga dari belakang.
Sedari
tadi, di perjalanan pulang, aku memang berjalan membelakangi Angga.
Langkahku terhenti, ketika mendengar dia memanggilku. Aku menoleh. Kini
tinggal jarak kira-kira sekitar satu meter yang membatasi kami.
“Ada apa?” tanyaku.
“Masih ingatkah kamu, dengan surat yang aku titipkan sama Sufi?”
Aku mengangguk. Sedikit terkejut mendengarnya. “Jadi, surat itu darimu?” tebakku, walau sangat yakin.
Angga
mengangguk kuat. Ia terduduk di bangku yang ada di sampingnya.
Kepalanya tertunduk. “Sudah lama, aku mencintaimu, Nil!” meluncurlah
juga sebuah kalimat yang Angga pendam selama hampir dua tahun ini. Aku
kaget bukan main. Tak menyangka, ternyata sosok yang mengajari aku jatuh
cinta, juga mencintaiku.
“Maaf jika aku lancang dan baru
mengatakannya sama kamu. Waktu itu, aku bimbang. Karena aku harus
memilih diantara dua pilihan. Anggi yang semakin parah, atau cintaku.
Aku sudah tau sejak lama, kalau Anggi menyukaimu. Walau dia tidak pernah
melihatkannya. Buku diarynyalah yang memberitahuku. Disaat itu juga,
aku mengalah. Kesembuhan Anggi dan kebahagiaan Anggilah yang aku
utamakan, dari pada cintaku!” Terang Angga panjang lebar.
Aku terperangah mendengar penjelasan itu. “Lalu, kenapa kamu melampiaskannya dengan pacaran?” tanyaku akhirnya.
“Selama ini, aku tidak pernah pacaran, Nil! Tika hanyalah teman. Nggak lebih. Semua itu hanyalah gossip biasa.”
“Lalu, apa maumu sekarang?”
“Kejujuranmu.”
“Aku
juga mencintaimu, Ga!” balasku akhirnya. Angga menatapku. Ia tersenyum
mengembang. “Tapi aku nggak mau, cinta ini membawaku dalam kemaksiatan
dan kesesatan.” Lanjutku.
Angga paham. “Sudah lama, aku memahamimu, Nil! Aku mencintaimu, karena Allah!”
“Dan karena Allah-lah, aku ingin tidak menjalin hubungan special denganmu!”
“Aku mengerti. Tapi satu hal yang harus kamu tau. Hati ni, untuk kamu!”
Aku terharu mendengarnya.
“Lalu bagaimana dengan cinta ini?” lanjut Angga.
“Kita tunggu sampai waktunya tiba. Aku yakin, kalau kita jodoh, pasti Allah akan mempersatukan kita.” Jawabku yakin.
Angga
tersenyum dan mengangguk yakin. Kami percaya. Pasti, jika Allah
berkehendak kami jodoh, kami akan disatukan. Dan pasti Allah akan selalu
menuntun hati kami. Ya Allah, mungkin seperti inilah SEBATAS RASA UNTUK
KITA!